Posted by: nti3 on: 10 Juli 2009
“aku pulang tanpa dendam, tuk terima kekalahanku
aku pulang tanpa dendam, kusalutkan kemenanganmu
kau ajarkan aku ……………”
(SheilaO7-Berhenti berharap)
Perhelatan besar negri ini usai sudah, pesta demokrasi yang aku rasakan ‘benar-benar sebuah pesta besar’. Meski banyak pro kontra mewarnai pelaksanaannya, mulai dari pileg sampai pilpres kemarin, harus diakui saat inilah bangsa Indonesia menunjukkan kematangan berdemokrasi. Bayangkan, kita dapat bebas bersuara tanpa dibungkam, mengkritik bahkan mencela tidak lagi menjadi tabu, seorang capres bebas ‘mencela habis’ kompetitornya tanpa canggung meski saat ini duduk dipemerintahan yang sama, sekali lagi coba bayangkan …
Seperti tulisanku yang lalu, mereka yang bertarung di pilpres kemaren adalah guru bangsa, negarawan yang segala sepak terjangnya akan selalu menjadi tauladan dan pembelajaran bagi rakyat. Megawati, SBY dan JK mungkin memang bukan presiden yang ideal-sempurna, tapi kita tetap harus memilih yang terbaik diantara mereka. Karena kita tidak boleh lagi main-main, pilihan kita saat ini akan menentukan kehidupan kita setidaknya 5 tahun ke depan. Meski tidak memilih (golput) adalah sebuah pilihan, tapi ngeri juga kan kalau hasil dari golput tadi justru memenangkan capres yang bertangan besi?
Dari awal aku sudah menduga SBY yang menang, bahkan satu putaran cukup. Suamiku bilang gak mungkin, pasti dua putaran karena Mega-JK juga punya kekuatan. Analisa itu betul, kalau kita bicara pileg. Tapi untuk pilpres, penokohan itulah yang utama, gak peduli apapun partainya. Pertanyaannya, kamu pendukung SBY ‘san? he..he.. pendukung sih bukan, kalau pemilih … iya dong
Vote SBY for presiden @8 July 2009. Alasannya? Banyak, salah satunya karena dua diantaranya gak banget. Artinya, milih karena ora ono liyo (gak ada yang lain) huehehe
. Coba kita ulas satu-satu ya.
EraMegawati dinilai sebagai pemerintahan yang gagal dengan dijualnya beberapa aset negara, gaya komunikasi politiknya kurang oke, sering menyerang secara pribadi (entah ada masalah pribadi apa dia dengan SBY), penghapusan outsourcing tidak segampang yang dijanjikan karena taruhannya harus berhadapan dengan para kaum kapitalis, artinya dia harus berhadapan dengan sanak kerabatnya sendiri, bagaimana bisa? Prabowo mengingatkanku akan tragedi Semanggi dan Trisakti, kasus pelanggaran HAM berat, yang menguap tanpa ketok palu persidangan. Dimana empatinya kepada para keluarga korban? Jangankan untuk melupakan, sekedar kata maaf mungkin kelu untuk mengucapkannya.
Jusuf Kalla adalah pribadi yang ‘segar’. Aku suka dengan gaya santainya. Tapi untuk memimpin negeri yang carut marut gini, sosok beliau masih kurang kuat. Akan banyak yang ngerecoki nanti. Dan Wiranto? ‘Serupa tapi tak sama’ dengan Prabowo, gak banget.
Saat ini, di era kepemimpinan SBY (SBY-JK jangan lupa!) pelan tapi pasti koruptor sudah tidak bebas lagi berkeliaran. Sistem yang transparan, demokratis, semua berjalan sesuai prosedur. Meski hujan kritik, cacian dan hujatan, beliau tetap tenang memegang komitmennya. Mungkin ini juga nilai plus dia di mata rakyat. Coba perhatikan, ketika dia menggandeng Budiono sebagai cawapres, meski dihujat bahkan oleh parpol pendukungnya, beliau tetap keukeuh dengan pendiriannya untuk tidak mengambil pasangan dari partai. Yup setuju, menghindari konflik kepentingan. Perhatikan lagi ketika KPU ‘ditekan’ oleh kubu Mega-Pro dan JK-Win untuk meloloskan pemilih yang menggunakan KTP, tidak sedikitpun SBY mengomentari, artinya tidak ada intervensi SBY sebagai bukti independensi KPU. Salut!
Treng …! meski penghitungan KPU belum publish, tapi hasil quick count beberapa lembaga survey menunjukkan kemenangan telak SBY. Fantastis, jauh diatas 50%. Dan ketika ada pengamat yang menilai kemenangan SBY karena faktor budaya pemilih yang rata-rata menengah ke bawah, aku jadi heran … apa mereka yang di Aussie, Itali, Prancis, Swedia etc juga mewakili budaya yang dimaksud? Komentar yang tendensius

Mereka yang maju sebagai capres cawapres adalah seorang negarawan-guru bangsa, setiap sepak terjangnya diharapkan bisa memberi tauladan dan pembelajaran bagi rakyat. Dan kini, ketika SBY-Budiono sudah diprediksikan menang telak dalam pemilihan presiden, adakah yang dengan sikap ksatria mengucapkan SELAMAT? Huehehe … mereka malah pada sibuk membahas kecurangan pilpres, bahkan berkomentar pemilu yang penuh rekayasa, pemilih yang sudah diarahkan. Bukankah sudah ada Bawaslu, Panwaslu? Mereka tidak tidur koq dan mereka juga independen. Lagian kita sudah pada pinter pak, bu, sudah bisa memilih yang terbaik tanpa iming-iming apapun. Bahkan sudah ada ‘peringatan’ dari Hidayat Nur Wahid dan juga Wimar Witoelar bagi pasangan yang kalah untuk memberi ucapan selamat kepada yang menang (meski masih versi quick count). Dan Budiono menunjukkan ‘keluguannya’ ketika merasa harus mengucapkan selamat kepada SBY. Gak heran ada reporter yang bertanya gak salah Pak ngucapin selamat ke SBY, bukankah itu kemenangan bapak juga? Jawab beliau? Tidak ada salahnya to memberi ucapan selamat, karena artinya kerja keras SBY selama ini benar-benar ‘menyentuh’ rakyat, hingga rakyat memilihnya kembali. Siiippp Pak. Dan JK, sekali lagi menunjukkan ‘kesegaran’ sikapnya. Dengan lugas dan disertai canda tawa dia memberi ucapan selamat pada SBY. Tinggal tunggu Megawati, relakah ia mengulurkan tangannya untuk SBY? Tunggu saja, karena semua kalangan pasti juga menuggu momen itu. Mau taruhan?? Gak lah melanggar hukum itu
Posted by: nti3 on: 7 Juli 2009
Menjadi seorang ibu ternyata memang harus punya hati seluas samudra, kalau menyangkut anak semua dipikirin, pengennya sempurna. Belum lagi kalau sakit, tanpa pikir panjang langsung … cuti! Nah, akhir-akhir ini banyak yang komentar katanya buah hatiku koq kelihatan kurus ya? Malah ada yang menyarankan untuk dikasih vitamin aja. Masalahnya anakku ma’emnya biasa aja, gak susah-susah amat. Lha terus vitaminnya buat apa? Akhirnya aku coba untuk gogling dan ini hasilnya :
Untuk si buah hati, tentu setiap orangtua berusaha memberikan nutrisi yang terbaik. Tapi tunggu dulu, apa dan bagaimana masalah mengenai nutrisi untuk si buah hati?
Sebenarnya hanya 1% wanita yang benar-benar tidak bisa menyusui. Jadi, Setiap wanita bisa memberikan ASI. Persiapan memberi ASI dimulai sejak bayi dalam kandungan. Begitu pula ketika ibu akan bekerja, ASI mulai diperas dan disimpan dalam lemari pendingin (frezeer) beberapa minggu bahkan beberapa bulan sebelumnya.
Pada awal kehidupannya, bayi sering sekali menyusu, sekitar 8-12 kali. Beri ASI saat ia meminta (on demand) agar produksi ASI dan pertumbuhan bayi optimal. Isapan si kecil dan pengosongan komplit payudara Anda merupakan rangsangan terbaik untuk meningkatkan jumlah ASI.
Yang sering terlupakan adalah ASI bukan hanya sekadar kaya nutrisi, namun ASI adalah materi hidup, yang juga mengandung enzim yang membantu agar pencernaan bayi bisa menyerap nutrisi dengan baik.
B= Besi
Bayi, terutama saat-saat penyapihan, rentan kekurangan zat besi yang bisa menyebabkan anemia. Para ahli menganjurkan untuk deteksi dini satu kali sebelum usia anak satu tahun lewat pemeriksaan kadar hemoglobin.
Penyerapan zat besi pada daging, ikan dan unggas cukup tinggi, pada gandum dan kacang-kacangan sedang, dan pada sayuran, penyerapannya rendah. Untuk meningkatkan penyerapan, kombinasikan makanan kaya zat besi dengan vitamin C, misalnya selipkan potongan tomat dalam bekal roti daging untuk si kecil.
C= Camilan sehat
Di sela-sela makanan wajib, anak pun butuh camilan. Tetapi repot juga bila anak lebih memilih mengemil daripada makan. Solusinya, sediakan camilan sehat yang setara gizinya dengan makanan wajib. Misalnya, roti dengan selai kacang, kroket keju, biskuit gandum. Hindari camilan manis sejak dini. Namun, saat anak aktif dan memerlukan makanan berkalori tinggi, segelas es krim, puding susu, atau cheesecake akan menambah energi untuk aktifitasnya.
D= diet
Bolehkah anak obesitas berdiet untuk menurunkan berat badan? Menurut para ahli, diet seperti ini tidaklah dianjurkan karena diet berlebihan ditakutkan mempengaruhi tumbuh kembangnya. Diet lebih ditujukan untuk membentuk pola makan sehat dan menjaga agar berat badan tidak terus naik. Diharapkan, semakin tinggi anak, berat badan akan menjadi seimbang. Sertakan pola makan sehat dengan aktifitas fisik yang pastinya memiliki banyak keuntungan untuk gaya hidupnya di masa depan
E= Enyahkan mitos
Masyarakat seringkali lebih mempercayai mitos ketimbang kenyataan. Salah satunya mitos bahwa menyusui akan merusak estetika payudara. Banyak selebriti dunia dan dalam negeri berlomba-lomba menyusui bayinya, dan lihat betapa badan mereka tetap langsing. Intinya, selama pola hidup sehat dijalankan, maka tubuh kita pun akan sehat dan bugar. Jadi, demi memberi si kecil makanan terbaik, mengapa Anda harus menundanya?
F= fakta tentang vitamin
Awal tahun 1900-an, ahli menemukan sebuah substansi “vital” dalam makanan, yang belakangan disebut vitamin. Efek kekurangannya cukup fatal, dan pemenuhannya akan memberi banyak keuntungan hingga jutaan orang tua di dunia berlomba memberikan suplemen vitamin untuk anaknya. Namun, makanan kaya vitamin tetaplah menjadi pilihan utama.
Faktanya, jumlah vitamin yang diserap ternyata bervariasi tergantung dari status nutrisi anak, makanan yang dikonsumsi sebelumnya, kondisi pencernaan, proses pengolahan, dan sumber vitaminnya. Anak diare menyerap vitamin lebih sedikit. Anak yang mengalami operasi pemotongan usus akan kekurangan vitamin tertentu tergantung letak ususnya. Begitu juga sayuran yang direbus terlalu lama akan berkurang kadar vitaminnya, dan sumber vitamin alami lebih baik penyerapannya.
G= Gigi vs tekstur makanan
Banyak orang tidak mengetahui bahwa ada hubungan antara pola makan anak dengan kesehatan gigi. Kepadatan makanan anak harus disesuaikan dengan perkembangan giginya. Anak yang terus menerus diberi makanan dengan tekstur halus membuat perkembangan rahangnya terhambat. Jika perkembangan rahang dan gusi terhambat maka pertumbuhan gigi pun bisa terganggu.
H= Hindari
Saat si kecil sedang belajar makan makanan padat, hindari mengenalkan makanan manis-manis. Makanan yang mengandung gula beralkohol (sorbitol) juga harus dibatasi karena bisa menyebabkan diare. Sayur atau buah kalengan bisa mengandung natrium terlalu banyak hingga tak baik untuk si kecil.
Beberapa jenis makanan dapat menyebabkan tersedak seperti potongan wortel mentah, buah cherri, permen, potongan sosis, kacang, butiran buah anggur, dan popcorn. Hindari pula si kecil bermain dengan balon, koin, ujung pulpen, bola-bola kecil tanpa pengawasan orang dewasa di sekitarnya.
I= Ikan
Ikan laut merupakan sumber omega 3 dan omega 6. Sertakan menu ikan di hidangan si kecil Anda. Tentu saja pilih ikan yang ‘aman’, artinya yang tidak memiliki banyak duri halus, misalnya ikan salem. Selain itu perhatikan jenis pengolahan. Untuk tahap permulaan, sebaiknya pilih masak dengan cara tim.
J= Jangan paksa
Seringkali anak usia 2-3 tahun tak mau makan menu yang disediakan, seiring dengan keinginannya untuk menentukan pilihan sendiri. Saat-saat seperti ini, pemaksaan malah akan mengganggu kemampuan si kecil untuk memilih dan menentukan kesukaannya. Selain itu, anak yang dipaksa mencoba menu baru, meski diiming-imingi hadiah, ternyata lebih banyak yang menolak makanan dibandingkan dengan anak yang suka rela mencobanya. Anak yang dihukum tidak makan makanan kesukaannya juga malah akan semakin menginginkan makanan tersebut. Tugas orang tua adalah menyediakan makanan sehat, dan biarkan si kecil memilih dan menentukan sendiri jumlah makanan yang diinginkannya.
K= Kurus?
Benarkah si kecil kurus? Membandingkan berat badannya dengan teman-teman sebayanya bukanlah cara akurat untuk memastikan si kecil kurus. Sebab ada anak yang memang berperawakan pendek dan ada pula yang tinggi.
Mengukur berat badan berdasarkan umur sebenarnya kurang tepat. Idealnya berat badan dibandingkan dengan tinggi atau panjang badannya. Terkadang si kecil memang punya berat badan lebih ringan dari sebayanya tetapi bila dilihat dari panjang badannya, mungkin ia sebenarnya normal.
Penilaian kurus atau tidaknya seorang anak juga ditentukan oleh banyak hal antara lain tebal lemaknya dan ukuran lingkar lengannya. Jadi, sebelum anak divonis kurus, konsultasikan terlebih dulu dengan dokter.
L= Lemak
Lemak mutlak diperlukan pada bayi yang relatif makan lebih sedikit daripada anak atau pun orang dewasa. Kebutuhan lemak untuk anak 1-3 tahun adalah 30-40% dari jumlah kalori sehari, sedangkan anak usia 4-18 tahun sebesar 25-35%. Lemak dibutuhkan untuk melarutkan beberapa jenis vitamin, untuk membangun sel termasuk sel saraf, untuk pertumbuhan otak, dan juga sebagai cadangan energi.
M= Menolak makan
Proses makan merupakan hasil interaksi, dan tidak melibatkan anak saja. Jangan salahkan si kecil bila ia menolak makan, bila faktor lain tak terpenuhi. Misalnya, suasana makan, jenis makanan yang diberikan, cara pemberiannya, stres, temperamen si kecil dan perkembangan keterampilannya turut berperan. Faktor budaya seperti memberi pisang yang dihaluskan pada bayi baru lahir akan mempengaruhi perkembangan keterampilan makan si kecil. Orang tua yang memaksa anaknya makan padahal ia tak lapar, atau anak yang selalu disuapi juga bisa menjadi salah satu sebab anak sulit makan. Jangan lupakan pula kondisi anak apakah ia sedang sakit atau tidak seperti bayi yang pilek bisa menolak makan karena pernapasannya terganggu.
N= Nutrisi anak aktif
Ketika si kecil mulai bersekolah dan menghabiskan separuh waktu siangnya di sana, ia butuh nutrisi lebih. Mereka butuh menu makan siang yang dapat memenuhi sepertiga dari kebutuhan energi, protein, vitamin A, vitamin C, zat besi, dan kalsium. Tanamkan pentingnya nutrisi bergizi, dan jangan biasakan menggantinya dengan jajan. Pastikan ia mendapat sarapan sarat gizi agar dapat belajar optimal. Sarapan yang disarankan adalah segelas susu, satu porsi buah atau sayur, lauk pauk, dan sumber karbohidrat seperti roti, mie, atau nasi.
O= Obat penambah nafsu makan
Curcuma sudah diteliti dapat menambah nafsu makan. Kekurangan zinc dapat juga mengurangi nafsu makan. Sebaiknya jangan tergoda untuk buru-buru membeli suplemen yang mengklaim bisa menambah nafsu makan anak, karena belum tentu si kecil membutuhkannya. Konsultasikan dulu dengan dokter anak Anda.
P= Pilih-pilih makanan
Menurut sebuah studi, picky eaters (anak yang suka pilih-pilih makanan) biasanya diberi ASI kurang dari 6 bulan hingga pemberian ASI lebih dari 6 bulan diharapkan dapat mencegahnya dari pilih-pilih makanan. Penelitian juga menunjukkan jumlah makanan yang disukai si kecil tak akan banyak berubah dari usia 2-3 tahun sampai uisa 8 tahun. Hingga anak yang sudah terlanjur pilih pilih makanan pada usia tersebut, akan lebih sulit diubah. Jadi, mengenalkan menu baru saat usianya dua hingga empat tahun akan lebih diterima ketimbang setelah usia empat tahun.
Beberapa elemen nutrisi akan meningkatkan daya tahan tubuhnya. Yang sudah diteliti antara lain antioksidan seperti selenium, vitamin c, a, e, zinc. Anak yang kekurangan nutrisi lebih mudah sakit. Begitu juga anak yang tidak minum ASI
S= Sering muntah
Anak yang sering muntah juga akan mempengaruhi status nutrisinya. Ada batasan kapan anak muntah dikatakan patologis.
T= Tidak suka sayur
Kesukaan anak terhadap sayur dan buah dibentuk sejak bayi, terutama ketika ia mulai makan sama dengan orang di sekitarnya. Menurut ahli, anak yang diberi variasi makanan dan sering melihat Anda makan sayuran akan lebih suka sayur. Tawarkan berbagai macam sayur, berulang-ulang dan konsisten, sampai anak Anda mau mencobanya. Cara lain adalah menyelipkan sayuran dalam makanan yang disukainya, misalnya bakso daging yang diberi wortel. Sebagai ukuran untuk balita, satu porsi sayuran kurang lebih satu sendok makan dikalikan usia dan setengah potong buah segar. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, satu porsi adalah satu potong buah atau satu cangkir sayuran mentah. Dalam satu hari, disarankan seorang anak mengonsumsi dua porsi buah dan tiga porsi sayuran.
U= Utamakan kenyamanan saat makan
Yang satu ini sering terlupakan. Orangtua hanya berpikir, “Hmm, waktu makan telah tiba dan anak harus makan!” Wah, tak perlu kaku begitu. Sebaiknya ciptakan suasana makan yang menyenangkan. Misalnya mengajak si kecil makan di teras belakang rumah, di depan ikan mas koki yang berwarna-warni. Anda perlu sedikit ‘cerewet’ mengajaknya ngobrol.
V= Variasi menu sehari
Sama seperti Anda, si kecil pun bisa bosan dengan jenis makanan yang itu-itu saja. Ayo sedikit kreatif. Nggak susah kok, tergantung kemauan Anda. Mau cara gampang, buka saja buku aneka resep bubur bayi, atau bertanya kepada orang-orang sekitar.
W= Waktu makan yang teratur
Keteraturan makan perlu diperkenalkan sejak dini. Idealnya si kecil makan tiga kali sehari dengan dua selingan di antaranya. Membiasakan si kecil makan sesuai jadwal akan membuat pencernaannya lebih siap dalam mengeluarkan hormon dan enzim yang dibutuhkan untuk mencerna makanan yang masuk.
X= X-tra hati-hati
Pengukuran berat badan setiap bulan pada bayi dapat menjadi deteksi dini apakah si kecil punya masalah kesehatan. Bila berat badannya tidak naik dua bulan berturut-turut sedangkan Anda telah memberinya nutrisi bergizi, hati-hati terhadap kondisi kesehatannya. Beberapa penyakit seperti tuberkulosis dan infeksi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan makan dan berat badannya tak naik-naik. Beberapa kelainan kromosom juga bisa menyebabkan berat badan dan tinggi badannya tidak naik seperti anak normal lainnya.
Meskipun dibutuhkan dalam jumlah kecil, yodium merupakan zat vital untuk kecerdasan si kecil. Sumber utama yodium adalah makanan laut, juga lewat suplementai (misalnya garam beryodium).
Z= Zink
Zink atau zat seng sudah terbukti meningkatkan daya tahan tubuh dan mencegah anak dari diare. Kandungannya tinggi pada makanan kaya protein seperti kerang, daging, daging unggas, dan hati, juga pada kacang-kacangan dan produk gandum. Kekurangan zat ini dapat menyebabkan anak kurang nafsu makan dan mudah sakit.
Posted by: nti3 on: 3 Juli 2009
Menjadi orang tua yang cerdas, moderen dan demokrat, itulah tekadku dalam mendidik, mengasuh dan membesarkan buah hatiku. Tidak selalu dipandang benar karena di lingkungan sekitar rumah banyak orang-orang tua dengan segala ‘kebiasaan leluhur’nya. Meski secara logika sudah tidak bisa diterapkan di era digital ini, tetap saja orang tua selalu benar. Kadang keadaan seperti ini membuat suasana jadi gak enak dan rawan konflik. Lebih amannya aku memilih diam dan senyum saja. Meski gak menafikan bahwa aku pasti akan diomongin di belakang nanti kalau aku sudah berlalu, hiks nasib … nasib …
Untuk kesehatan anak, aku tidak pernah coba-coba (ngiklan banget
), di luar itu masih bisa nego. Lha iya, kalau entar Bayu sakit emang mereka mau ikutan nanggung nebus resep Dokter? Atau nemenin begadang kalau dia rewel malam hari? atau … nggantiin hatiku yang terkoyak melihat anakku lemas gak berdaya? Gak banget, no way!!
Oke, coba aku list ya kontradiksi apa saja yang sering aku hadapi sehari-hari :










Uraian di atas adalah beberapa contoh kontradiksi yang aku temui sehari-hari, satu hal yang mereka lupa, tiap anak terlahir dengan keunikan dan keistimewaannya masing-masing. Dan itu berbanding lurus dengan pola pengasuhannya, setiap orang tua harus cerdas, tanggap dan mengerti betul keunikan buah hatinya sehingga pertumbuhannya bisa maksimal. Dan di jaman keterbukaan dan modern ini, kita sebagai orang tua tidak hanya memperhatikan pertumbuhannya secara fisik tapi juga mental. Karena apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai nanti. Mendidik anak untuk mandiri, membiasakan ‘beda’ agar kelak dia tidak alergi dengan kehidupan berdemokrasi, berani tampil apa adanya dan menyadari setiap orang punya arti.
Gak apalah untuk saat ini aku menuai banyak cemooh atau jadi bahan gunjingan, kalau taruhannya adalah melihat Bayu di masa depan sebagai pribadi yang mandiri, berani, demokrat, modern, jujur dan menghargai ‘ada’ orang lain selain dirinya … semua ini tidaklah berarti
Ok nak, melesatlah layaknya anak panah, dan ibu-bapak akan berusaha menjadi busur yang baik dan kokoh buatmu
Posted by: nti3 on: 18 Juni 2009
Ini mungkin postinganku yang paling singkat, karena sifatnya yang mengajak dan ‘memaksa’ untuk out of the box.
Kasus Prita, Manohara dan terakhir Cici Paramida adalah secuil kisah anak manusia yang masuk ranah hukum. Mereka mungkin tidak pernah membayangkan akan mengalaminya terlebih menjadi korban. Jangan lengah! karena kita bisa jadi korban berikutnya. Membekali diri dengan ilmu, belajar untuk lebih melek hukum, agar kita tidak mudah dibodohi oleh kekuasaan yang mencoba merampas hak dan martabat kita sebagai manusia. Ayo, mulai dari yang paling sederhana, yaitu ….. UUD 1945.

“Bila rakyat tidak berani mengeluh,
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah,
kebenaran pasti terancam”By : Wiji Thukul
Posted by: nti3 on: 16 Juni 2009
Disclaimer : Catatan ini hasil penulusuran penulis, layaknya sebuah puzle mencoba mengumpulkan semua kepingan yang terserak, mencari dan menganalisa hingga berujung pada satu kesimpulan yang berdiri kokoh pada kerangka OTAK.
Kebalen, Kamis 11 Juni ’09 09.00
Tepat satu minggu sejak aku mendaftarkan gugatanku ke PHI (Pengadilan Hubungan Industrial). Harusnya, menurut undang-undang saat ini sudah harus dibentuk susunan majelis hakim dan panggilan sidang untuk mereka yang beracara (penggugat dan tergugat). Entah tertarik, entah peduli, entah pengen tau, entah ….. :p Sekitar 5 menit bergeser dari posisi pukul 9 ponselku berdering. Mr. Lawyer in call, menanyakan apa aku sudah terima surat panggilan sidang. Aku jawab belum dan beliau menyarankan agar aku proaktif dengan mencoba menanyakannya ke PHI. Kelak, saran Mr. Lawyer ini membuatku jadi bertanya apa kepentingan dia dengan kasusku? Study kasus? Pesenan? Tugas negara? sutralah, hak dia apapun alasannya.
Meluncurlah cerita darinya bahwa kasusku menarik perhatian dia dan teman-temannya, mereka membahas bahkan ikutan menyusun langkah2 apa yang mesti ditempuh kedepannya, tidak terlepas dari pro kontra pastinya. Yang pro aku mengusulkan untuk dibiarkan saja kasus ini bergulir di persidangan biar bisa menjadi pelajaran bagi siapa saja, dan yang kontra meminta Mr. Lawyer untuk menjembatani agar masalah ini cukuplah penyelesaian secara kekeluargaan dengan satu alasan menyelamatkan nama baik. Satu pertanyanku, di situasi seperti ini, dimanakah anda (Mr. Lawyer) letakkan diri anda? Apakah yang pro, yang kontra, diantara keduanya, tidak dua-duanya atau … justru di atas semuanya? Artinya, ada ‘tugas’ yang jauh lebih penting, ada ‘nyawa’ yang mesti harus diselamatkan, ada ‘tempurung’ yang mesti dia jaga agar ‘katak harus tetap dalam tempurung’, ada benteng yang begitu kokohnya yang harus tetap bisa membentengi apapun di dalamnya. Yang semuanya itu bisa ‘blarrrr’, bisa ‘rush’, bisa terjadi chaos jika aku bisa duduk di sidang PHI dengan tetap memegang erat kasusku.
09.45
Kali ini telpon meja yang berdering, kirain temen, begitu kuangkat ups! wakil perusahaan yang nelpon. Aku diminta menghadap beliau di lantai 3, ok siapa takut?? Begitu berhadapan pertanyaan pertama yang diajukan ” sudah dikirimi email ama Mr. Lawyer? ” Email yg mana? Entah yang mana yang dimaksud aku bilang sudah. Kalimat kedua lebih mirip sebuah prolog (yang HARUS diinget) bahwa apapun gerakan yang aku lakukan bareng temen2 harus demi kemajuan perusahaan. Sebentar, topik apa yang kita bahas? Gerakan apa? Sepertinya beliau baru nyadar aku gak langsung sambung sama pembicaraan dia. Akhirnya beliau langsung ngajak ngobrol tentang gugatan PHI-ku. Singkat cerita beliau minta aku untuk menarik gugatan agar tidak sampai permasalahan ini ‘keluar’. Intinya beliau mencoba mengajakku untuk mediasi. Mediasi? 6 bulan kemarin itu? Jelas ini sebuah konspirasi, aku tidak bodoh untuk bisa menyimpulkan bahwa mereka SENGAJA MEMBIARKAN karena mereka yakin aku sama dengan yang lain, menguap dan hilang begitu saja. Dari dulu aku sudah tidak percaya dengan mereka, mereka jago ‘menggantung’ orang, menganggap remeh, tapi ketika tersudut segala cara mereka tempuh (kalau perlu sampai memohon kali
) agar kita bisa sedikit lunak. Terlambat, waktu 6 bulan (ditambah 3 bulan sebelum bipartit) adalah waktu yang teramat lama untuk memberi kesempatan perusahaan untuk berdamai. Kalau sekarang mereka minta dengan serius untuk berdamai, aku yakin bukan pemahaman dan kesadaran yang mereka kedepankan tapi perasaan takut nama baiknya tercemar terlebih nama baik owner. Ini pil pahit yang harus mereka telan
12.15
Puff, selesai juga ‘mediasiku’ dengan wakil perusahaan. Cukup lama dari pukul 09.45 sampai 12.15 untuk pembicaraan yang gak penting secara gugatan sudah bergulir di pengadilan. Meski jalan masih panjang tapi aku cukup puas melihat reaksi perusahaan. Terlihat jelas mereka takut, ada upaya untuk mencoba menghentikan langkahku , mencoba merayu dengan memberi uang yang aku minta saat itu juga. Tunggu dulu, aku sudah cukup sakit hati dengan perusahaan. Dengan gaya komunikasi diamnya, kearogansiannya hingga membuatku sangat berhati-hati untuk bergaining. Tidak ada bergaining, kita ikuti saja alur ini dengan sewajarnya, ibarat air biarlah ini mengalir mengikuti arusnya. Kalaupun perusahaan mau berdamai, sampaikan saja dalam eksepsi, kita punya kedudukan yang sama di mata hukum.
Jum’at, 12 Juni 2009
08.05
Baru sadar kalau ponselku ketinggalan. Buatku gak terlalu masalah mengingat tidak terlalu bergantungnya aku dengan tekhnologi satu ini. Tapi masalahnya, dalam minggu ini aku ibarat DPO (Daftar Pencarian Orang), hingga banyak yang menghubungi meski sekedar tanya kabar, pengen tau, bahkan ‘simpati’ dari Mr. Lawyer yang selalu ingin mengikuti setiap detik perkembangan kasusku. Karena seharian aku gak bisa menjawab panggilan, aku yakin pasti banyak prasangka dari para simpatisan tersebut. Dan ternyata benar, besok Senin ketika ponsel aku on-kan langsung Mr. Lawyer menghubungiku dan bertanya marahkah aku dengan campur tangannya? Tidak berkenankah aku karena dia mencoba memediasi aku dengan perusahaan? Atau aku bener-bener sibuk? He..he.. jawabanku sederhana saja … “maaf Pak, kemaren HP ketinggalan”. Dia bilang, 2 hari kepikiran terus karena tidak ada kabar dari aku. Dan memintaku untuk bener-bener percaya pada beliau, bahkan ada deklarasi bahwa beliau adalah konsultan hukumku, gratis lagi. Dia juga pesen, kalau ada upaya lagi dari perusahaan untuk mengajakku bertemu, jangan mau dan bilang saja kalau aku sudah menyerahkan semuanya pada dia. Heemmm …, jadi kayak lawyer-ku beneran yah? Persis seperti yang ada di pikiranku
Senin, 15 Juni 2009
07.05
Sesaat sebelum berangkat kerja ada tamu datang ke rumah. Surprised, ada juru sita dari PHI yang datang dengan membawa surat panggilan sidang pertama untuk hari Jum’at besok tgl. 19 Juni 2009. Terharu (bener!) ternyata hukum gak seseram yang aku bayangkan, semua mengalir sesuai prosedur yang berlaku, tidak ada kesan ‘gak direken’ atau dipandang sebelah mata karena tuntutannya yang cuman ‘segitu’. Awal yang baik amin, semoga kebenaran tetap bisa ditegakkan.

Posted by: nti3 on: 5 Juni 2009

Perhatikan tanda panah !!
Jawa Pos Jum’at, 29 MEi 2009
http://versipdf.jawapos.co.id/index.php?detail=jp_det&file_det=006000241260
Kenapa harus memperhatikan tanda panah? ya harus, karena itulah yang membuat aku tergelitik. Demi untuk menjadi orang nomer satu di Indonesia, para pasangan capres-cawapres obral duit untuk kampanye. Ada yang pasang di media cetak fullpage seperti di atas, ada yang beriklan di televisi yang pastinya tambah dalem ngerogoh koceknya, belum lagi berbagai gelaran pesta rakyat (baca: pentas dangdut artis ibukota) yang jauh dari kesan mendidik. Dan semuanya butuh uang yang tidak sedikit, tidak dikisaran jutaan atau milyaran lagi, tapi sudah ada yang tembus trilyunan rupiah. Atas nama rakyat, atas nama wong cilik, apa gak sayang uang itu dihambur-hamburkan? Dimana empatinya menghamburkan uang di tengah himpitan ekonomi yang harus dirasakan rakyat? Dan uang segitu banyaknya, dari mana sumbernya? Apakah itu juga yang menjadi alasan PERLUNYA mencantumkan NOMOR REKENING tim sukses? agar yang mau memberi sumbangan bisa langsung transfer? he..he
MEmang sih ada aturannya (baca : undang-undang) untuk transparansi dana kampanye, salah satunya dengan pencantuman dan didaftarkannya nomor rekening yang sah. Lalu apa timbal balik bagi mereka yang sudah rela memberi sumbangan? Benarkah pure atas alasan simpati[san]? Mungkin ya … mungkin juga tidak
Tidak bisakah (atau mulai dari sekarang kalu mau) untuk mulai merombak pola kampanye parpol selama ini. Gak perlu hura-hura karena taruhannya hidup rakyat setidaknya selama 5 tahun kedepan. Sederhana saja, misal talkshow biar visi misi bisa jelas tertangkap, atau kompulir aja permasalahan bangsa ini (beberapa saja gak usah banyak-2) terus sampaikan solusi nyata, riil yang bisa langsung ke jantung permasalahan tanpa embel-embel ‘seandainya saya jadi …’ atau ‘yah kalau cuma 5 tahun belum bisa dilihat hasilnya ….’ terus maunya 2 periode gitu? Dari sini rakyat bisa menilai siapa pemimpin yang pantas membawa bangsa ini ke arah perubahan yang lebih baik, siapa yang berpikiran waras, siapa yang meletakkan kepentingan rakyat di atas kepentingan partai (??), siapa yang ‘lebih menguasai medan’? Let me show ……..
PROGRAM AKSI untuk kemakmuran rakyat
Kalau kita baca dan perhatikan 8 program aksi yang diwacanakan, menurut pemahamanku sebenernya semua sudah tercantum dalam peraturan perundang-undangan termasuk juga UUD 1945. Perhatikan, ada program untuk menguasai [kembali] yang meyangkut hajat hidup orang banyak, fakir miskin dan anak terlantar dipelihara negara. Cukuplah menerapkan atau mengimplementasikan apa yang sudah ditetapkan undang-undang, siapapun presidennya. Mestinya bisa lebih simpel dengan hanya menuliskan “akan benar-benar mengimplementasikan apa yang sudah ditetapkan undang-undang, yang termasuk juga di dalamnya menegakkan aturan (baca : hukum). Perhatikan juga program ke-3 mengenai perjuangan hak-hak buruh. Sebagai pemegang pucuk pemerintahan perjuangan riil apa yang akan diperjuangkan?Akan ada revisi peraturan perundangan yang berpihak pada buruh kah?Atau akan terbit lagi peraturan perundangan yang baru? Bukannya kalau para pengusaha (juga pemerintah) mau jujur, menjalankan undang-undang ketenagakerjaan sebagaimana mestinya, tidak membiaskan pengertian yang sebenernya, buruh sudah terlindungi hak-haknya. Tapi selama ini yang terjadi kan karena dilegalkannya penyelewengan (pengartian lain, salah kaprah) sehingga seolah-olah hak buruh dikebiri dan harus diperjuangkan. Mestinya tanpa perjuanganpun hak buruh sudah terlindungi (Undang-Undang No. 13 Tahun 2003). JAdi?
Cerdas secara intelektual dan emosional
Harusnya hari ini, 29 Mei 2009 merupakan hari pertama kampanye pilpres setelah diajukan dari rencana semula 13 Juni 2009 (bener yah?). Nyatanya kini ada wacana lagi untuk mengundur sampai dengan tanggal 2 Juni 2009, sudahlah … bagiku terserah saja. Hanya yang terpenting bapak-ibu berkampanyela dengan damai, dengan cara yang elegan, yang mendidik biar kami yang nonton jadi dapet bonus pembelajaran, jadi nikmat nontonnya, gak bikin ricuh, bikin macet. Satu lagi, kami rakyat indonesia sudah cerdas untuk bisa menilai sosok calon pemimpin bangsa. Bermainlah dengan cantik, jangan terjebak suasana, terpancing ekspos media, karena dalam setiap komen yang terlontar terbawa juga emosi yang sedang melanda. Dan biasanya kita tidak menyadari itu, tapi orang luar bisa menangkap dengan jelas mana yang hasil dari pemikiran matang mana yang hanya umbaran emosi belaka. Secara intelektual kita mengakui semua calon cerdas, kaya pengalaman, tapi secara emosi? tunggu dulu, emosi tidak bisa ‘terlabel’ dan kemudian kita menyandangnya sepanjang hari-selamanya, tapi emosi senantiasa berubah selaras dengan aktivitas pikir kita. Kalau memang konsep yang diusung kompetitor kurang tepat, biarlah rakyat juga yang menilai, tidak perlu menjelek-jelekkan apalagi mencari kesalahan dan kelemahannya. Cukup tunjukkan saja keunggulan kita, sampaikan dengan jelas dan tepat visa dan misi kita. Sekali lagi jangan terpengaruh dan terseret ‘permainan’ media, tampillah dengan anggun, elegan, smart dan pasti percaya diri. Pepatah lama masih saja berlaku …. ” tong kosong nyaring bunyinya”.
Posted by: nti3 on: 29 Mei 2009
Aku stress, yah … baru siang tadi aku sadar bahwa ternyata aku terserang stres. Tiga hari ini aku merasa ada yang beda dengan diriku. Respon tubuh yang ekstrim, udara panas tapi di tengah tidur malam aku terbangun dan menggigil. Aku tidak sedang flu, tapi beringus. Habis makan masih merasa lapar. Kondisi yang aneh, harus dicari jawabnya. Begitu nyampek kantor aku alokasikan 30 menit untuk menelusuri ‘kenanganku’, aku mulai merunut kejadian-kejadian yang aku alami setidaknya satu bulan kebelakang. Slide demi slide berganti tayang dengan durasi bebas, gak jarang slide yang telah tayang harus tayang lagi untuk menarik benang merah dari semua ‘kenangan’ itu. Sampai aku pada satu kesadaran bahwa … AKU STRESS!
Kemarin, aku pikir aku sudah bener-bener piawai mengolah stres, manajemen hati. Ternyata manajemen stresku baru pada tahap penerimaan yang telah tersedia, untuk ‘hadiah tak terduga’ yang begitu melenakan belum aku siapkan. Ternyata aku lebih siap menerima segala sesuatu yang buruk rupa ketimbang yang menawan. Aku terbuai … dan akhirnya aku harus menerima akibatnya. Yah, aku terbuai dengan kehadiran malaikat kecilku. Menikmati tingkah polahnya yang lucu, lompatan pertumbuhannya dari hari ke hari, kenikmatan menjadi orang tua baru dan luapan syukur atas semua pintaku yang Dia wujudkan dalam wujud mungil anakku. Yah, aku pernah minta kesempurnaan dan kemudahan (dalam perspektifku) untuk anakku. Dan aku lega, apa yang ‘aku kondisikan’ bener-bener nyata.
Dan goncangan itu datang, sayup, pelan, lirih …. nyaris tanpa suara. Aku lupa bahwa anak adalah bagian dari hidup, dan yang namanya hidup tidak stagnan, senantiasa bergerak, berputar, like a rollercoster. Meski masih bayi, dia juga mahkluk sosial yang juga punya naluri untuk berinteraksi, perproses, berubah menurut ritme hidupnya sendiri, bukan melulu ritme kehidupan orang tuanya. Aku terlalu mengkondisikan hidup anakku, mempersiapkan yang terbaik dan merasa orang yang paling berhak atas hidupnya. Sehingga ketika aku dihadapkan pada kondisi di mana ada orang-orang yang ‘ikutan’ mengkondisikan anakku aku merasa tidak terima. Meski tak terucap tidak juga terlihat lewat sikap, aku harus mengakui pada diri sendiri bahwa aku memang tidak terima. Tapi bisakah aku memaksakan mereka untuk memenuhi mauku? I’m not a full time mommy, ada saat dimana aku harus berbagi pengasuhan pada mereka. Tidak hanya karena alasan aku bekerja tapi lebih ke pemenuhan hak anakku untuk berinteraksi juga dengan orang selain orang tuanya. Yah, ini yang terlambat aku sadari.

Berdiri di persimpangan jalan
Sebagai orang tua jelas aku dan suami harus kompak dan satu suara dalam mendidik anak. Jika suami bilang tidak dan menurutku ada baiknya juga untuk anakku, aku akan ikutan bilang tidak. Tapi ketika anakku diajak saudara dan membolehkan, apa yang mesti aku lakukan? Di satu sisi aku ingin apa yang tidak boleh seterusnya diingat oleh anakku sebagai hal yang memang tidak boleh dilakukannya, tapi ketika ada seseorang yang membolehkannya apa tidak mungkin kelak dia akan selalu mencari pelarian (baca: pembelaan) ketika kedua orangtuanya bilang tidak? Apa jadinya nanti ketika dia telah mengenal dunia luar? Tidakkah selalu mencari pembenaran di setiap kesalahan yang dilakukannya? Satu, ini yang membuatku stres.
Kedua, keinginanku untuk melihat anakku sehat, gak sering batuk seperti sekarang. Dua hari berobat, sembuh eee … tiga hari batuk lagi. Inginku sebelum dia sembuh benar, aku jauhkan dia dari semua pencetusnya termasuk teman mainnya yang sakit batuk. Tapi ketika dia tidak dalam pengasuhanku, dia bebas bermain membaur dengan semua temannya yang uhuk-uhuk tadi. HAsilnya? Batuknya jadi kambuh lagi. Menyaksikannya lemas karena muntah, mendengar napasnya yang grok-grok, menemaninya bangun tengah malam, menoreh perih di ulu hatiku, tagisan dalam hati. Siapa yang bisa mengerti perasaan ini? Bukan karena capek tapi lebih dari itu, perasaan gak tega, ingin aku menggantikannya. Penyebab stresku yang kedua.
Tidak pernah ada di mata mereka
Sampai hari ini di usia 7 bulan anakku, masih saja ada orang yang menafikan peranku dalam mengasuh anak. Ada yang bilang aku ibu yang paling enak, punya anak tapi gak kerepotan mengasuhnya, pergi kerja dari pagi sampai sore, anak di tinggal di rumah. Duh, sadarkah ia kata-katanya membuat hatiku teriris? Tidak tahukah ia justru anakku tak titipin TPA karena gak mau merepotkan orang rumah? Menyedihkan
Belum lagi satunya ngomong, anakku bisa tidur nyenyak kalau di gendong si mbak, soale kalau sama aku nggak pernah tak gendong. Omongan yang gak penting, aku maunya anakku tidur ya di tempat tidur tidak digendongan. Apa jadinya jika ia besar nanti? Ditambah lagi ketika aku pulang kerja, di saat kangen sudah pada puncaknya anakku tidak di rumah. Atau aku tidak boleh langsung megang dikarenakan belum cuci tangan, belum mandi, bau jalan, meski anakku dah ngerengek dan nangis. Herannya, kenapa kalau mbak di rumah yang baru dari luar datang langsung menimang anakku tidak ada yang protes? Tidak ada yang negur belum cuci kaki, cuci tangan? Aturan yang parsial. Bukannya secara psikis tangisan tidak segera mendapat respon mengikis rasa percaya dirinya? Penyebab stresku yang ketiga.

Mendengarkan intuisi mengobati hati
Dari tiga paparan tadi sudah bisa dipastikan aku stress. Sudah, gak perlu merunut lagi, cukup. Ketidakkuasaanku untuk mengkondisikan seperti yang aku mau, bukan karena tidak mampu tapi lebih disebabkan ‘pengakuanku’ atas hal-hal yang terserak di sekitarku, mengitari hidup anakku, hingga aku HARUS ‘mempersilahkannya’ masuk, berpartisipasi mewarnai hidup kami. Tak apalah, aku hanya percaya bahwa Dia tidak tidur dan diam. Ketika anakku ada dalam pengasuhanku aku bisa mengupayakan yang terbaik tapi ketika ada dalam pengasuhan orang lain, cukuplah aku pasrah menitipkan kepadaNya dan yakin tanganNya pasti terulur untuk melindungi anakku. Dan seperti yang sering aku lakukan dulu, aku harus berpikir positif, memupuk sugesti, melatih intuisi agar seperti itulah yang akan terjadi, yang dibisikkan intuisiku, nuraniku, kata katiku. Dan itu tidak pernah salah, aku sudah membuktikan kekuatan intuisi dari masa pacaran dengan suami, menikah, mengandung sampai melahirkan anakku. Semuanya nyata, meski kedengarannya aneh dan sedikit ‘klenik’ tapi begitulah adanya. Sering aku ditertawakan suami ketika bilang bahwa kalau aku mau sesuatu aku hanya perlu mengucapkannya dalam hati, memupuk sugesti dan berkhayal atau bertingkah seolah-olah itu nyata, kelak entah kapan pasti terwujud nyata. Kelihatan mengada ada yah? Nggak juga, sebenernya kalau dilogika dan ditelaah lagi secara techno itu benar. Sering gak mendengar alam bawa sadar? Yah, seperti itulah intuisi bekerja. Alam bawa sadar mampu menggerakkan kita, mengoperasikan motorik kita berdasarkan rutinitas dan kebiasaan yang kita lakukan setiap hari. Yah, setiap hari kita punya beribu macam rutinitas yang pastinya terekam jelas dalam memory dan alam bawa sadar kita. Ambil contoh kalau kita berangkat kerja naik motor. Awalnya kita harus bener-bener memperhatikan rute jangan sampai nyasar atau hati-hati menghindari jalanan yang berlobang, kosentrasi penuh, gak boleh ngobrol atau sambil bersenandung. Tapi setelah seminggu, sebulan, setahun … kita sudah tidak lagi detail memperhatikan rute. Sering tersadar setelah melewati traffic light kita mikir ‘eh, tadi lampunya ijo atau merah sich koq aku gak berhenti?’ Atau ‘eh, koq dah nyampek sini yah? bukannya di tikungan tadi ada lobang besar? Gimana caranya aku menghindarinya tadi?’ KEsimpulannya kita sudah bisa yah naik motor sambil ngelamun tapi nyampek juga di tujuan? Pernah ada temen yang cerita dia sering salah ambil haluan ketika di jalan tol, harusnya ambil kanan trus belok untuk nyampek ke kantor tempat dia bekerja sekarang, tapi dia sering malah ambil kiri dan belok ke tempat kerjanya yang dulu, yang sudah 5 tahun dia tempati. Nah, apa yang menggerakkan kita? Alam bawa sadar, memory yang otomatis mereply. Sama halnya dengan sugesti atau intuisi. Pernah gak mengalami ketika kita lagi memikirkan seorang teman lama dan berharap bisa bertemu eh tiba-tiba dia nongol karena kebetulan lagi liburan keluarga. Kebetulan? Tidak juga, karena sebenernya intuisi juga bentuk komunikasi. Komunikasi pertama yang kita kenal sejak dalam kandungan ibu. Komunikasi bayi dengan ibunya, orang menyebutnya kontak batin. Dan setiap orang bisa melakukannya, hanya kadang kita lupa dan merasa sudah tidak jaman menerapkannya di era digital ini.
Pernah membaca buku The Secret? Aku mulai ngomong masalah intuisi dengan orang lain setelah membaca buku ini. Sebelumnya aku gak pernah berani berbagi tentang keajaiban komunikasi via intuisi, takut dibilang ‘klenik’, berlagak peramal atau ngepas-ngepasno (baca : mencocok-cocokkan – JAwa). Tapi setelah aku membaca The Secret aku semakin yakin bahwa yang aku terapkan dari 5 tahun yang lalu itu bukan klenik, bukan karena punya indra keenam tapi sugesti dan intuisi itu memang benar adanya. Contoh sederhananya membalikkan rasa tidak nyaman menjadi nyaman, seperti ketika kepala pening-pusing cobalah membalikkan dengan mengatakan aku tidak apa-apa, hanya perlu tidur saja, setelah bangun pasti sembuh. Dan rasakan hasilnya!

Berpijak dari keyakinanku akan kekuatan intuisi, aku harus berpikir dan yakin bahwa meski tidak dalam pengasuhanku, anakku tetap bisa mendapat perlakuan yang terbaik seperti yang aku sugestikan padanya. Dan untuk diriku sendiri harus lebih rileks, bersahabat dengan semua rasa, menerima dan merasakannya semua tanpa memilah.
Demi stres ………., mencoba bersahabat dengan semua rasa. Lempeng, terkadang sangatlah melegakan
Posted by: nti3 on: 27 Mei 2009

Kalau diperhatikan hampir semua tulisanku berisi tentang keeneg-anku tentang rutinitas, yang biasa, pada umumnya, kebenaran publik. Aku tidak suka ‘pada umumnya’, serasa kurang hidup, nggak nendang. Selama pilihan-pilihanku tidak merugikan orang lain, suka-suka dong aku menjalaninya dengan cara apa. Dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk mau keluar dari comfort zone. Karena dipastikan akan menuai komentar, lebih tepatnya cemooh dan sindiran. Kadang aku berfikir, begitu kuatnya sebuah kebiasaan itu mengakar hingga sulit untuk tercabut bahkan bisa meninggalkan perih jika dipaksakan. Sebuah dogma, diartikan pastilah sebuah kebenaran.
Berani tampil beda, begitu slogan salah satu iklan di media. Kenapa untuk beda harus berani? Ya harus, karena kultur kita yang belum plural. Belum bisa menerima perbedaan. Demokrasi saja masih dalam tahap belajar, belum menjadi budaya. Bisa dipastikan yang beda akan tersisih, dikotakkan bahkan yang lebih gila lagi dianggap salah dan sesat. Jadi inget gumaman lirih seorang teman (tepatnya curhat) ketika dia harus menghadapi sebuah dilema untuk mempertahankan idealisme (yang pasti sesuai kata hati) ataukah mengikuti alur yang ‘biasanya’ yang dipastikan membohongi nuraninya sendiri. “San, … kalau ada dua orang waras di antara sepuluh orang gila, siapah yang sesungguhnya gila?” Heemm … aku cuman senyum simpul aja waktu itu, kalau aku waras pastilah bilang yang gila ya delapan orang itu, tapi kalau aku ikutan gila, pasti yang dua itu lebih edan lagi, dah dibilang sabuk (ikat pinggang-jawa) ini buat kalung eee … dipake di pinggang
Sebenernya apa yang membuat sesuatu itu terlihat beda karena ketidakbiasaan kita dalam menerima apa adanya. Coba bayangkan jika pikiran kita tidak pernah sekalipun mendistorsi sesuatu itu benar-salah, atau biasanya-tidak biasa, adakah yang namanya perbedaan? Kalau biasanya kita melukis langit dengan warna biru, dan ada temen yang melukisnya dengan warna jingga, biarlah dia dengan perspektifnya, tidak perlu ada stempel salah dan benar. Kita coba membiasakan diri terutama pikiran kita menerima hal-hal yang tidak biasa. Bukankah hidup sendiri sudah penuh dengan ketidakpastian? Penuh kejutan? Lompatan-lompatan yang tidak biasa? Apajadinya jika kita masih kaku dalam menyikapi dan masih tertahan di pola pikir yang sempit?

Minggu ini media menyiarkan rencana MUI pusat untuk memfatwa haram bagi Facebook (Fb) dan Ring Back Tone (RBT), setelah sebelumnya MUI Jatim lebih dulu mengeluarkan fatwa ini. Keningku langsung berkerut, otakku yang terbiasa ‘liberal’ jadi makin nanar dan terekamlah dialog otak dan hati di memoriku. MUI, lembaga apakah ini sebenernya? Siapakah mereka-mereka yang duduk di dalamnya? Apa niat (suci) awal dibentuknya hingga sampai saat ini negara masih mempertahankan keberadaannya? Lembaga pemerintahan ataukah murni lembaga keagamaan? Kalau memang lembaga agama, adakah perwakilan lima agama (enam ditambah konghucu dan aliran kepercayaan-red) di dalamnya? Mengapa yang terlihat aktif dan obral fatwa hanya dari kalangan muslim? Terlalu care-kah mereka? Selalu yang menjadi alasan dasar karena tidak ingin umat menjadi ‘jahiliyah’, adalah dosa jika membiarkan dan memberi jalan bagi orang untuk berbuat atau menuju maksiat. Mana yang disebut jahiliyah? Dosa dan maksiat apa yang kita bicarakan?
FB ditakutkan (ketakutan yang konyol :/) bisa membawa umat untuk maksiat, karena orang yang tergabung dalam jejaring ini bisa berhubungan dengan lawan jenis, komentar-komentar nakal yang berujung pada pelecehan, selingkuh lewat inbox, mencari pacar bagi yang lajang. Dan RBT yang beragam, tidak hanya lagu, tapi juga dakwah dan lantunan ayat kitab suci bisa diartikan juga ‘melecehkan’. Karena sering kali RBT belum habis sudah kepotong karena kita menjawab panggilan hingga arti dari ayat yang terdengar tadi bisa lain dari yang semestinya. Atau kalau kita lagi di kamar mandi atau WC dan bawa ponsel, masak iya lantunan ayat suci di dalam WC, kan gak bener. Yang gak bener yang mana?
Kita hidup di jaman modern dimana modernisasi tidak bisa kita jadikan kambing hitam untuk pikiran kita yang memang sempit. Modernisasi dibarengi dengan pesatnya tekhnologi dan [kemanusiaan] manusianya yang tidak lagi terpasung. Menguapnya jarak dan waktu. Dan jika dengan kondisi jaman yang sudah begini kita memilih untuk terpasung, terkungkung, primitif, konvensional, say no to techno, boleh-boleh saja. Yang tidak dibenarkan adalah kita memaksakan orang lain untuk mengikuti pilihan dan jalan pikiran kita terlebih mentasbihkannya SALAH dan SESAT. Siapa sih kita hingga merasa berhak dan wajib meluruskan jalan hidup orang. Sudah penuhkah kita? Bukankah kita harus penuh dulu sebelum mengisi orang lain?
Penutup, pesan bijak dari The Simpsons, agama harus berjarak 1000 kilometer dengan tekhnologi karena jika tidak pasti akan terjadi gesekan, yang bisa menyulut dan ……. BOOOOMMMM!!!!!
Posted by: nti3 on: 18 Mei 2009
Seperti coretanku yang lalu (baca : Menanti sebuah jawaban ... Disnaker), sampai dengan tenggat akhirku untuk Disnaker, surat anjuran itu tak kunjung datang. Akhirnya senin, 11 Mei 2009 aku mencoba menanyakannya kembali melalui surat resmi dan tembusannya aku tujukan ke kotak Pos 9949 (Kotak Pos SBY) dan Komnasham. Untuk yang terakhir aku sebut, aku melaporkannya via email.


Seminggu, tepatnya Sabtu tgl. 16 Mei 2009 siang, surat jawaban itu datang. Heran, Sabtu koq ada surat datang, jangan-jangan mereka pada lembur he..he.. Apa kotak Pos 9949 yang bikin mereka serem atau emang bisanya hari itu? Gak taulah, yang pasti aku puas jawaban itu akhirnya datang juga. Terlebih setelah semua pendirianku ‘dibenarkan’ menurut Undang-undang dan semua tuntutanku harus dipenuhi perusahaan selambat-lambatnya 10 hari kerja sejak surat anjuran itu diterima. Artinya akan ada komunikasi dari perusahaan kalau mereka bener-bener mau menjalankan anjuran itu, gak diem seribu bahasa seperti selama ini. Dan aku juga harus mempersiapkan jawaban tertulis atas surat anjuran tersebut untuk dikirim ke Disnaker. Jika perusahaan tetep bertahan dengan gaya komunikasinya (diem, ilmu kebatinan), ada 2 pertanyaan yang mengusikku : pertama, mereka kurang paham alur yang harus dilewati dari kasus ini atau … kedua inilah jawaban mereka atas surat anjuran itu, diam … berarti menolak menurut undang-undang. Tapi, bagaimana jika mereka memilih diam karena mengartikan diam berarti setuju? Joko sembung menek kates, gak nyambung … jes!




Bukan provokasi yang ingin aku tebar, tapi keberanian yang ingin aku tularkan. Keberanian mempertahankan hak, keberanian berkomunikasi, keberanian menghadapi resiko, terlebih keberanian menerima diri apa adanya. Pembelajaran bahwa kecerdasan seseorang tidak bisa dilihat semata dari tingkat pendidikan apalagi status sosial, kebenaran tetaplah kebenaran betapapun alur yang harus dilewati begitu ruwetnya, yang harus dihadapi begitu ‘besarnya’, yang meski dipikul begitu beratnya, yang mesti ‘rai gedheg’, yang mesti berhati besar-seluas samudra. Dan semoga semuanya tidak sia-sia, semua bisa belajar …….. dari sini.
Posted by: nti3 on: 11 Mei 2009
Seperti yang dilansir majalah Time, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) masuk dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia, sejajar dengan presiden AS Barack Obama. Banyak yang menilai ini salah satu upaya untuk mendongkrak popularitas SBY jelang pilpres Juli mendatang. Opini yang aneh, bagaimana bisa Time mengeluarkan berita berdasarkan pesanan? Bagaimana jika aku berpendapat bahwa ini salah satu tanda alam, bahasaNya yang hanya bisa di dengar dan dimengerti oleh mereka yang waras?
Bagiku tidak ada yang aneh jika Time menempatkan SBY dalam jajaran tokoh paling berpengaruh di dunia. Karena SBY punya modal untuk itu. Selain performa, iklim politik Indonesia yang selalu memanas dan gempuran media yang menayangkan pemberitaan siang dan malam sangat berkontribusi besar untuk itu. Apalagi penilaian dunia yang menyebutkan kehidupan Demokrasi Indonesia mengalami pertumbuhan sangat pesat. Entah ini murni keberhasilan SBY, ataukah peninggalan pendahulunya, yang pasti di era kepemimpinannya hasil itu nyata, bisa dirasakan.
Saya tidak akan pernah menafikan peran besar media dalam membesarkan SBY. Seperti tulisanku yang lalu (Kampanye Gratis buat SBY), media punya peranan penting bagaimana sebuah informasi bisa sampai dan diterima di masyarakat, bahkan media bisa membentuk sebuah opini umum. Entah benar ataupun tidak, yang jelas sebuah informasi yang terus menerus kita disampaikan dan diterima bisa dianggap itulah kebenaran. Terlebih jika informasi tersebut menimbulkan pro kontra. Menggelitik tokoh berpengaruh negeri ini untuk inkutan berkomentar, makin berkembanglah sebuah informasi itu.
Ambil contoh, pro kontra kenaikan dan penurunan harga BBM. Mau tepat atau tidak, berdasar data atau tidak, melihat pasar atau hanya hitungan matematika sederhana, setidaknya menyentil para pakar di bidang ini untuk ikut memberi ‘kuliah gratis ‘ pada rakyat. Lihat, bagaimana elegannya bapak Kwik Gian Gie memberikan paparannya, hingga kita bisa paham cara berfikir ahli ekonom. Perhatikan juga para elit (oposisi?) dalam mengeluarkan statement, rakyat jadi ngerti kenapa harus ada ‘oposisi’ dalam pemerintahan? Sebagai penyeimbangkah? Atau pengingat jika ada yang mulai melenceng jalannya? Dan sikap yang ditunjukkan SBY, bisakah juga kita mengambil pelajaran darinya?
Ambil contoh juga di pro kontra penyelenggaraan BLT. Pro kontra ini diklaim penyumbang suara yg cukup signifikan Partai Demokrat karena kemunculannya di kampanye pileg kemarin. Bukan semata karena sangat membantu rakyat, tapi juga karena ada tokoh parpol yang plinplan tadinya nolak malah berbalik jadi mendukung. Takut ditinggal rakyat ya, Bu? Begitulah, rakyat Indonesia sekarang sudah jauh lebih cerdas dan lebih berani untuk menilai dan memilih. MAsih ingat komentar Megawati (PDI-P) yang mengatakan BLT sangat tidak mendidik, menjual kehormatan karena gak ada beda dengan peminta-minta. Ketika SBY mengkonter dengan jawaban bahwa BLT ada karena rasa kemanusiaannya yang terusik untuk membantu mereka yang benar-benar tidak bisa ‘mencari ikan’ jika diberi kail, komentarnya jadi berbalik mendukung dan ditambah embel-embel mengawal untuk sampai ke tangan yang berhak. He..he.. jangankan tokoh politik, aku orang biasa saja tergelitik untuk berkomentar “ayak ayak wae Ibu ini, Dukung tidak-dukung tidak, rakyat jadi bingung … ” (SBY mode on)
Ada yang menyebutnya deja vu, sebuah perasaan seakan pernah mengalami sebuah peristiwa sebelumnya, ada juga yang menyebutnya kebetulan ada juga yang meyakini ini adalah jawaban dari do’a di malam-malam panjangnya. Yang pasti semuanya meyakini bahwa apa yang ada di depan mata saat ini, itulah gambaran di masa depan.
Aku memang bukan pengikut fanatik SBY, tidak juga hidup mati untuk SBY. Aku hanya ‘tidak mau rugi’ jika melewatkan begitu saja semua yg terjadi di negeri ini, menyimak setiap kejadian dan mengambil pelajaran darinya. Kuliah gratis bukan? Mengingat biaya untuk kuliah yang semakin membumbung. Setidaknya kita bisa menjadi bangsa yang cerdas meski tanpa titel, tanpa pengakuan selembar ijasah. Mudah-mudahan entah berapa puluh tahun ke depan, kecerdasan dan skill seseorang tidak mutlak ditentukan oleh ‘stempel kelulusan’.
—
Meski sudah berkali-kali pemilu digelar, tapi baru pemilu 2009 ini yang paling terasa gaungnya, atmosfernya begitu terasa, rakyat ‘terlihat’ sangat dilibatkan, pesta demokrasi yang bener-bener syarat pembelajaran. Lihatlah, sebagian dari kita ada yang merasa perlu untuk protes ketika nama tidak terdaftar di DPT. Heran, bukannya pemilu yang sudah-sudah kita cuek aja mau terdaftar atau tidak? Mengapa sekarang ribut? Makin jelas, semua ingin terlibat, berpartisipasi, berpesta demokrasi. Dan seperti janji KPU (SBY?) bahwa jika DPT Pileg kemaren dinilai penuh kekurangan, biarlah hasil pembenahan itu ada di Pilpres. Terlihat kesungguhan KPU (SBY?) untuk berbenah, terutama mengenai DPT. Terbukti dengan proaktifnya KPPS mendatangi warga yang Pileg kemaren tidak terdaftar dalam DPT, termasuk aku. Mudah-mudahan suaraku bisa ikut membawa Indonesia ke arah perubahan yang lebih baik, makmur-sejahtera, aman dan terlihat di mata dunia, amin ……
Ayo nyontreng!!
Posted by: nti3 on: 7 Mei 2009
Beberapa kali aku di ajak orang tuaku untuk berkunjung di sini. Apa yang terjadi akhir2 ini membuat aku dan anak2 yang lain akan kehilangan tempat untuk rekreasi murah. Lokasai kebun yang hijau dan adem kini telah memanas akibat perebutan Hak Pengelolaan. Oh, PEMKOT Surabaya tolong jangan komersialkan KeBunku.
Sumber : Jawa Pos
PT Surya Inti Permata (SIP) selaku pemenang sengketa mulai menempuh langkah tegas. Mereka mengirimkan surat permohonan peringatan (aanmaning) ke Pengadilan Negeri Surabaya.
Peringatan itu diminta karena pemkot tidak kunjung menyerahkan hak kelola taman yang menjadi sarana belajar siswa itu. Sebelumnya, PT SIP telah meminta pemindahan hak pengelolaan tersebut secara terbuka. Tapi, pemkot malah mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung.
Biasanya, aanmaning merupakan langkah awal sebelum melakukan eksekusi. Jika peringatan dari pengadilan tidak diindahkan, eksekusi langsung bisa dilaksanakan. “Kami sudah berusaha untuk meminta baik-baik,” kata kuasa hukum PT SIP Muara Harianja kemarin (6/5).
Menurut dia, dengan mengajukan aanmaning, tahap eksekusi tinggal selangkah lagi. Surat permohonan itu rencananya dimasukkan hari ini ke pengadilan yang berlokasi di Jalan Arjuna itu. Sebenarnya, rencana pengajuan tersebut sudah ada sejak lama.
Hanya, pengadilan meminta surat keterangan dari DPRD Surabaya bahwa PT SIP pernah melakukan hearing dan mendapat persetujuan dewan. Surat itu dibutuhkan untuk memperkuat dokumen yang mendukung dilakukannya eksekusi. “Bisa saja dewan menghalangi saat eksekusi nanti,” ujarnya.
Jika peringatan itu tidak diindahkan, PT SIP mengancam akan mengambil pilihan eksekusi. Sebab, jika hak kelola tidak segera diberikan, kliennya akan menanggung kerugian yang semakin banyak.
Muara mengatakan tidak habis pikir dengan sikap pemkot yang, menurut dia, bandel. Sebab, dasar pengalihan pengelolaan kebun tersebut telah jelas dan memiliki kekuatan hukum tetap. “Kalau begitu, apa tidak menghalangi orang lain menerima haknya?” ucapnya.
Sementara itu, permohonan peringatan PT SIP dari pengadilan tidak membuat pemkot keder. Instansi di Jalan Jimerto tersebut optimistis pengadilan tidak akan mengabulkan rencanaaanmaning dan permohonan eksekusi itu. “Tidak apa-apa. Apa pengadilan akan memberikan?” tanya Kabag Hukum Suharto Wardoyo. Sebab, kata dia, PT SIP belum mengantongi izin pengelolaan tanah dari pemkot. Tanpa izin itu, perusahaan yang berkantor di Jalan Panglima Sudirman tersebut tidak bisa berbuat apa-apa.
Seperti diberitakan, pemkot kalah dalam sengketa dengan PT SIP terkait dengan pengelolaan Kebun Bibit. Sesuai dengan putusan hakim, instansi di bawah Bambang Dwi Hartono itu diharuskan menyerahkan hak pengelolaan kepada PT SIP. Sebab, putusan hakim Mahkamah Agung telah berkekuatan hukum tetap.
Posted by: nti3 on: 7 Mei 2009
Disclaimer :
Opini pribadi sebagai akibat terakumulasinya kejenuhan untuk menunggu satu jawaban pasti
Sudah satu bulan lebih terhitung sejak sidang mediasi ke 3 (baca kronologi di sini) aku belum menerima surat anjuran dari Disnaker. Heran, permasalahannya sederhana, dasar hukumnya jelas, kenapa terkesan begitu sulit untuk menyusun surat anjuran? Aku memaklumi posisi Disnaker yang harus seimbang, berdiri di tengah-tengah antara perusahaan dan pekerja, tidak memihak. Tapi bila permasalahnnya sudah jelas dan perusahaan tidak bisa dibenarkan, kenapa harus memakan waktu yang begitu lama?
Aku mencoba untuk bersabar dengan menunggu dan berkomunikasi secara intensif dengan mediator (Disnaker) untuk menayakan adakah kendala dari penyusunan surat anjuran itu. Jawaban mediator selalu sama, nunggu antrian karena banyak kasus yang numpuk, sedang diproses, terakhir sudah masuk meja pimpinan untuk approve. Jawaban terakhir aku terima sekitar 2 minggu lalu, dan kemarin aku hubungi lagi jawabannya masih ada koreksi dari pimpinan dan perbaikan dari koreksi tadi belum diapprove pimpinan dengan alasan jarang di tempat. Hugh! Niat awalku untuk penyelesaian secara damai jadi mulai luntur karena proses yang lambat dan berbelit ini. Jiwa ‘buruhku’ berontak, bergerak liar menguasai otakku hingga mampu menggerakkan semua ‘sistem informasiku’ untuk mempelajari proses seperti apakah yang seharusnya dijalankan Disnaker, berdasarkan hukum perundang-undangan yang berlaku dan hasilnya adalah :
Dalam hal tidak tercapai kesepakatan penyelesaian perselisihan hubungan industrial melalui mediasi, maka :
- a. mediator mengeluarkan anjuran tertulis
- b. anjuran tertulis sebagaimana dimaksud (1) dalam waktu selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak sidang mediasi pertama sudah harus disampaikan kepada para pihak
- ……….
Dari uraian dasar hukum di atas jika dikorelasikan dengan kasusku banyak yang bisa dijadikan dasar, dan harusnya proses yang dijalankan Disnaker sesuai dengan peraturan perundangan tersebut.Karena jelas jika ada unsur kelalaian maka ada sanksi yang akan dikenakan. Mestinya sejak sidang mediasi pertama tidak mencapai kesepakatan, anjuran itu sudah harus mulai disusun. Entahlah, dasar apa yang Disnaker pakai hingga harus ada sidang kedua dan ketiga dan ……… lagi-lagi perusahaan tidak datang. Untuk alasan pimpinan jarang di tempat, masak iya beliau tidak ada warning! untuk kasus yang sudah exceeded. Tidak adakah tools untuk itu? Pantes saja banyak kasus menumpuk, lha wong tidak ada warning mana kasus yang belum closed. Jangan-jangan banyak kasus perburuhan yang tidak masuk Badan Arsip? Entahlah …………. :p
Buruhku yang malang ………………..
Note :
Minggu ini tenggat akhirku untuk Disnaker, jika sampai esok Jum’at 8 Mei 2009 pukul 18.00 anjuran itu belum datang, Senin … dengan sadar aku blow up ke media.
Posted by: nti3 on: 6 Mei 2009
Minggu ini, berita keterlibatan ketua KPK non aktif Antasari Azar dalam kasus pembunuhan berencana bos PT. Putra Rajawali Persada Nasrudin Zulkarnain mampu merajai pemberitaan pers dalam negeri. Setelah kurang lebih 2 minggu media tiada hentinya membahas Pilpres, kecurangan DPT, Flu babi dan juga kisah cinta Manohara. Menarik untuk disimak dan seru untuk diikuti bagaimana ending dari kasus ini. Motif apa yang melatarbelakangi, benarkah murni masalah cinta segitiga? Bagaimana kinerja kepolisian dan kejaksaan? Di mana mereka menempatkan diri? Sudah proporsionalkah? Adakah interest pribadi? Bagaimana reaksi SBY-sang presiden?
Untuk membuktikan benar tidaknya Antasari terlibat apalagi statusnya kini tersangka, disebutkan sebagai dalang / otak dari rencana pembunuhan Nasrudin biarlah menjadi tugas kepolisian dan kejaksaan, para aparat hukum. Tapi setidaknya kita (kita? aku kalee ..) bisa mengambil pelajaran dari kasus ini seperti :
Harapanku untuk pers Indonesia, semakin matang dalam penyajian, berani, proporsional, aktual tidak mengekor, tidak semata untuk profit, karena media ikut andil dalam membentuk opini umum yang berkembang di masyarakat. Karena informasi yang diterima terus menerus, memborbardir 24 jam dalam sehari-7 hari dalam seminggu bisa dianggap itulah kebenaran.
Posted by: nti3 on: 5 Mei 2009
Demokrat Tanggapi Pernyataan Kalla
05 May 2009 14:37:10
Jakarta, (tvOne)
Fraksi Partai Demokrat DPR menanggapi pernyataan Ketua Umum Partai Golkar, Jusuf Kalla, yang dinilai kurang pas. Yaitu ungkapan Kalla yang menyebut Partai Golkar selama ini kerap dijadikan penyelamat atau bumper atas kebijakan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, khususnya di parlemen.
Ada empat poin yang disampaikan Ketua Fraksi Partai Demokrat, Sjarif Hassan, untuk meluruskan persoalan terkait dengan jalannya koalisi antara Partai Demokrat dan Partai Golkar selama ini.
Pertama koalisi kedua partai di parlemen untuk mendukung pemerintah secara umum sudah sesuai dengan fungsi dan tanggung jawab masing-masing partai. Kendati dalam perjalannya, kata Sjarief, kadang muncul perbedaan kebijakan dalam mendukung keputusan pemerintah.
Misalnya, setiap ada hak angket maupun interpelasi di DPR, Fraksi Partai Demokrat secara total menolak hak anggota dewan itu. Sementara, di Fraksi Partai Golkar, ada beberapa anggotanya yang ikut menyetujui hak untuk mendukung angket atau interpelasi.
Selain itu, dalam pengambilan keputusan kepada rapat paripurna DPR, Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi Partai Golkar sering berbeda pendapat dalam mendukung kebijakan pemerintah. “Contohnya dalam pengambilan keputusan tentang UU pemilu dan UU Pilrpes,” kata Sjarief.
Kedua, menyangkut masalah koalisi partai. Sjarief mengatakan komunikasi yang dilakukan Tim 9 dari Partai Demokrat dengan Tim 3 dari Partai Golkar pada dasarnya adalah koalisi institusi, bukan koalisi Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden dan Jusuf Kalla sebagai calon wakil presiden.
Sehingga, kata Sjarief, ketika terdapat usulan dari Tim 3 dari Partai Golkar tentang koalisi Yudhoyono-Kalla, Tim 9 justru tidak mendapat tugas untuk membicarakannya. Karena itu, Tim 9 perlu waktu untuk menyampaikan usul Tim 3 itu kepada Yudhoyono.
Ketiga, setelah Kalla dinyatakan maju sebagai calon wakil presiden, maka Yudhoyono menyampaikan lima kriteria calon wakil presiden kepada publik yang akan mendampingi Yudhoyono. Penyampaian kriteria itu sekaligus untuk menampung aspirasi dari partai-partai lain yang juga berkeinginan mendampingi Yudhoyono.
Keempat, mengenai pernyataan Kalla tentang peresmian infrastruktur dan proyek-proyek lain yang dilakukan Kalla, kata Sjarief, sebenarnya hal itu adalah merupakan permintaan Kalla kepada Yudhoyono. Sehingga Yudhoyono setuju dan menugaskan Kalla untuk meresmikan infrasktukrur dan proyek itu. (vivanews.com).
masa pemerintahan sby-jk masih sampai oktober 2009.Jika melihat berita di atas sanggupkah pemerintah melanjutkan apa yang telah menjadi program dalam menjalankan pemerintahan.
Posted by: nti3 on: 5 Mei 2009
Bulan kemaren ada temen yang menyapa lewat facebook, ngobrol ngalor ngidul secara sudah lama gak ketemu. Diakhir pembicaraan dia mengundangku untuk mampir ke blognya, biar rame tambah seru begitu ucapnya. Boleh juga, pikirku. Jadi nambah satu address lagi menu sarapan pagiku, sambil ngopi baca blog haiyah … nikmat yang sempurna didukung koneksi internet gratis. Weh.. weh ..
Blog yang tidak biasa, dalam arti tidak asal seperti punyaku, banyak tema tinggi yang cukup membuat kening berkerut, gak jarang juga mesti buka kamus untuk translate bahasa londo yang dipake. Informatif, update isu-isu yang lagi headline surat kabar. Ditambah lagi iming-iming bahwa blog bisa jadi ‘infus’ bagi kantong kita. Yup, bisa menghasilkan duit yang lumayanlah. Menarik bikin ngiler tapi …..

Pelan-pelan aku pelajari bagaimana dia bisa menjadikan blog-nya ibarat infus. Penjelasannya gamblang, bisa dipelajari. Tapi kembali lagi aku tidak bisa menerapkannya langsung di blogku, selain agak gaptek memang tujuan awalku bikin blog adalah untuk curhat. He..he.. melow banget yah? Emang iya, aku kalau lagi gak enak ama seseorang sukanya corat-coret gak jelas. Aku ibaratkan lagi berdialog (atau marah?) dengan dia. Aku tumpahkan semuanya komplit dengan caci makinya (syerem yah?) gak lupa juga petuah-petuah bijak (cie
) di akhir aksi corat-coret itu. Setelah puas aku membacanya lagi, kali ini tanpa tendensi apa-apa, biasa seperti lagi baca koran atau novel. Lalu meremasnya dan buang. Atau kalau pas nulisnya di diary yah … mau gak mau kesimpen sampek sekarang. Lalu kepikir kenapa aku gak memanfaatkan blog? Kan enak lebih praktis gak harus nyimpen buku sampek tuwir belum lagi kalau nanti ilang? Lagian aku ingin blogku nanti bisa jadi blog keluarga, jadi yang nulis bisa aku, suami atau anakku kelak. hi..hi.. asyik kali yah?
Semua orang berhak menentukan apa yang terbaik bagi dirinya, dengan tidak melupakan hak orang lain tentunya. Begitu juga dalam memanfaatkan keberadaan blog. Buat curhat oke, ajang kampanye? ayuk, ladang bisnis? sah-sah saja, pembuktian eksistensi diri? boleh juga, apapun tujuannya yang penting minumnya teh botol sosro
Memang keberadaan blog bagi penulis amatiran kayak daku ini banyak kali manfaatnya. Ruang bebas tanpa hirarki, mau nulis apa saja silahkan. Karena sifatnya yang bebas harusnya kita bisa memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas tulisan kita istilahnya latihan menulis. Dari yang awalnya coba2-asal, meningkat jadi yang bisa memotivasi orang lain syukur bisa jadi penulis profesional. Atau bisa menjadikannya profit? Salut buat salah satu temanku yang bisa membukukan salah satu tulisan diblognya (hebat Shant …
).
Seperti blog teman yang aku kunjungi, aku membaca kurang lebih 3 sampai 5 tulisan. Terlihat jelas beda dari masing-masing tulisan itu. Dan aku bisa menebaknya dengan pasti mana yang tulisan dia mana yang copy paste atau link dari sumber lain. How can? Contohnya gini, kalau kita punya teman dekat atau katakanlah keluarga, sering komunikasi via sms. Dari kalimat yang kita kirim dan terima, kita bisa membedakan mana yang tulisan (jawaban sms) dia, mana yang bukan meskipun sms itu dikirim dari nomer yang sama. KArena kita sudah hafal bahasa dan gaya komunikasinya. KArena masing-masing orang itu unik, gak ada yang sama. Informasi yang sama kalau yang menyampaikan orang yang berbeda akan beda gaya bahasanya, dan lebih parah lagi bisa juga beda nyampeknya. Dan teman yang copy paste artikel ke blognya, bisakah dibenarkan? Bisa saja, karena ini ruang bebas dan lagi tujuan dia ngeblog kan bukan untuk curhat atau menulis opini tapi untuk ladang bisnis. Yup, infus bagi kantongnya. JAdi dia harus bener-bener mencari cara agar blognya sering dikunjungi, salah satunya ya harus konek ke link populer atau tema yang sedang jadi headline media.
Sedang untukku yang menjadikan ini ruang praktek ya harus bener-bener praktek agar bisa cepet lihai nulisnya gak sering-sering pencet delete atau backspace, gak perlu juga jadi plagiant (bener gak seh nulise?) dengan mengcopy paste tulisan orang lain, ya iyalah … katanya mo belajar nulis jadi buat apa tulisan orang lain yang dipublish? Kalau terinspirasi tema sich boleh saja, asal penuturannya tetap gaya bertutur kita, berdasarkan perspektif kita sendiri. Okay? Nulis yukkk!!!