Coretanku …..

Kontradiksi, karena beda tidak pasti salah

Posted by: nti3 on: 27 Mei 2009

kontra

Kalau diperhatikan hampir semua tulisanku berisi tentang keeneg-anku tentang rutinitas, yang biasa, pada umumnya, kebenaran publik. Aku tidak suka ‘pada umumnya’, serasa kurang hidup, nggak nendang. Selama pilihan-pilihanku tidak merugikan orang lain, suka-suka dong aku menjalaninya dengan cara apa. Dibutuhkan keberanian yang luar biasa untuk mau keluar dari comfort zone. Karena dipastikan akan menuai komentar, lebih tepatnya cemooh dan sindiran. Kadang aku berfikir, begitu kuatnya sebuah kebiasaan itu mengakar hingga sulit untuk tercabut bahkan bisa meninggalkan perih jika dipaksakan. Sebuah dogma, diartikan pastilah sebuah kebenaran.

Berani tampil beda, begitu slogan salah satu iklan di media. Kenapa untuk beda harus berani? Ya harus, karena kultur kita yang belum plural. Belum bisa menerima perbedaan. Demokrasi saja masih dalam tahap belajar, belum menjadi budaya. Bisa dipastikan yang beda akan tersisih, dikotakkan bahkan yang lebih gila lagi dianggap salah dan sesat. Jadi inget gumaman lirih seorang teman (tepatnya curhat) ketika dia harus menghadapi sebuah dilema untuk mempertahankan idealisme (yang pasti sesuai kata hati) ataukah mengikuti alur yang ‘biasanya’ yang dipastikan membohongi nuraninya sendiri. “San, … kalau ada dua orang waras di antara sepuluh orang gila, siapah yang sesungguhnya gila?” Heemm … aku cuman senyum simpul aja waktu itu, kalau aku waras pastilah bilang yang gila ya delapan orang itu, tapi kalau aku ikutan gila, pasti yang dua itu lebih edan lagi, dah dibilang sabuk (ikat pinggang-jawa) ini buat kalung eee … dipake di pinggang :)

Sebenernya apa yang membuat sesuatu itu terlihat beda karena ketidakbiasaan kita dalam menerima apa adanya. Coba bayangkan jika pikiran kita tidak pernah sekalipun mendistorsi sesuatu itu benar-salah, atau biasanya-tidak biasa, adakah yang namanya perbedaan? Kalau biasanya kita melukis langit dengan warna biru, dan ada temen yang melukisnya dengan warna jingga, biarlah dia dengan perspektifnya, tidak perlu ada stempel salah dan benar. Kita coba membiasakan diri terutama pikiran kita menerima hal-hal yang tidak biasa. Bukankah hidup sendiri sudah penuh dengan ketidakpastian? Penuh kejutan? Lompatan-lompatan yang tidak biasa? Apajadinya jika kita masih kaku dalam menyikapi dan masih tertahan di pola pikir yang sempit?

fb

Minggu ini media menyiarkan rencana MUI pusat untuk memfatwa haram bagi Facebook (Fb) dan Ring Back Tone (RBT), setelah sebelumnya MUI Jatim lebih dulu mengeluarkan fatwa ini. Keningku langsung berkerut, otakku yang terbiasa ‘liberal’ jadi makin nanar dan terekamlah dialog otak dan hati di memoriku. MUI, lembaga apakah ini sebenernya? Siapakah mereka-mereka  yang duduk di dalamnya? Apa niat (suci) awal dibentuknya hingga sampai saat ini negara masih mempertahankan keberadaannya? Lembaga pemerintahan ataukah murni lembaga keagamaan? Kalau memang lembaga agama, adakah perwakilan lima agama (enam ditambah konghucu dan aliran kepercayaan-red) di dalamnya? Mengapa yang terlihat aktif dan obral fatwa hanya dari kalangan muslim? Terlalu care-kah mereka? Selalu yang menjadi alasan dasar karena tidak ingin umat menjadi ‘jahiliyah’, adalah dosa jika membiarkan dan memberi jalan bagi orang untuk berbuat atau menuju maksiat. Mana yang disebut jahiliyah? Dosa dan maksiat apa yang kita bicarakan?

FB ditakutkan (ketakutan yang konyol :/) bisa membawa umat untuk maksiat, karena orang yang tergabung dalam jejaring ini bisa berhubungan dengan lawan jenis, komentar-komentar nakal yang berujung pada pelecehan, selingkuh lewat inbox, mencari pacar bagi yang lajang. Dan RBT yang beragam, tidak hanya lagu, tapi juga dakwah dan lantunan ayat kitab suci bisa diartikan juga ‘melecehkan’. Karena sering kali RBT belum habis sudah kepotong karena kita menjawab panggilan hingga arti dari ayat yang terdengar tadi bisa lain dari yang semestinya. Atau kalau kita lagi di kamar mandi atau WC dan bawa ponsel, masak iya lantunan ayat suci di dalam WC, kan gak bener. Yang gak bener yang mana? 

Kita hidup di jaman modern dimana modernisasi tidak bisa kita jadikan kambing hitam untuk pikiran kita yang memang sempit. Modernisasi dibarengi dengan pesatnya tekhnologi dan [kemanusiaan] manusianya yang tidak lagi terpasung. Menguapnya jarak dan waktu. Dan jika dengan kondisi jaman yang sudah begini kita memilih untuk terpasung, terkungkung, primitif, konvensional, say no to techno, boleh-boleh saja. Yang tidak dibenarkan adalah kita memaksakan orang lain untuk mengikuti pilihan dan jalan pikiran kita terlebih mentasbihkannya SALAH dan SESAT. Siapa sih kita hingga merasa berhak dan wajib meluruskan jalan hidup orang. Sudah penuhkah kita? Bukankah kita harus penuh dulu sebelum mengisi orang lain?

Penutup, pesan bijak dari The Simpsons, agama harus berjarak 1000 kilometer dengan tekhnologi karena jika tidak pasti akan terjadi gesekan, yang bisa menyulut dan ……. BOOOOMMMM!!!!!

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 

Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

santi’s twitter

  • Akan lebih baik /tdk, sdh tdk penting! krn yg Kami minta perubahan, selebihnya its ur bsnes 11 hours ago
  • pertnyaanya : siapkah kalian dg prubahan nanti? ketika smua tembok drubuhkan & gak Ada tempt u brsandar? 11 hours ago
  • apapun tjuanya, siapapun yg mengturnya aku brharap revolusi ini trwujud, gak bkn hnya reformasi. Mimpi? wharever u'll say 11 hours ago
  • 1 org bilang salah msh bs kita anggap ia gila. tp ktika dia bungkam msh jg Ada yg bilang ini salah, sapa sbnrnya yg gila? 11 hours ago
  • Knp kita slalu diingtkan u/ menjaga hati? krn yg kluar lewat sikap kita hanya akan bikin malu & saat menydarinya kelak ms itu sdh lewat. 17 hours ago
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.