Posted by: nti3 on: 29 Mei 2009
Aku stress, yah … baru siang tadi aku sadar bahwa ternyata aku terserang stres. Tiga hari ini aku merasa ada yang beda dengan diriku. Respon tubuh yang ekstrim, udara panas tapi di tengah tidur malam aku terbangun dan menggigil. Aku tidak sedang flu, tapi beringus. Habis makan masih merasa lapar. Kondisi yang aneh, harus dicari jawabnya. Begitu nyampek kantor aku alokasikan 30 menit untuk menelusuri ‘kenanganku’, aku mulai merunut kejadian-kejadian yang aku alami setidaknya satu bulan kebelakang. Slide demi slide berganti tayang dengan durasi bebas, gak jarang slide yang telah tayang harus tayang lagi untuk menarik benang merah dari semua ‘kenangan’ itu. Sampai aku pada satu kesadaran bahwa … AKU STRESS!
Kemarin, aku pikir aku sudah bener-bener piawai mengolah stres, manajemen hati. Ternyata manajemen stresku baru pada tahap penerimaan yang telah tersedia, untuk ‘hadiah tak terduga’ yang begitu melenakan belum aku siapkan. Ternyata aku lebih siap menerima segala sesuatu yang buruk rupa ketimbang yang menawan. Aku terbuai … dan akhirnya aku harus menerima akibatnya. Yah, aku terbuai dengan kehadiran malaikat kecilku. Menikmati tingkah polahnya yang lucu, lompatan pertumbuhannya dari hari ke hari, kenikmatan menjadi orang tua baru dan luapan syukur atas semua pintaku yang Dia wujudkan dalam wujud mungil anakku. Yah, aku pernah minta kesempurnaan dan kemudahan (dalam perspektifku) untuk anakku. Dan aku lega, apa yang ‘aku kondisikan’ bener-bener nyata.
Dan goncangan itu datang, sayup, pelan, lirih …. nyaris tanpa suara. Aku lupa bahwa anak adalah bagian dari hidup, dan yang namanya hidup tidak stagnan, senantiasa bergerak, berputar, like a rollercoster. Meski masih bayi, dia juga mahkluk sosial yang juga punya naluri untuk berinteraksi, perproses, berubah menurut ritme hidupnya sendiri, bukan melulu ritme kehidupan orang tuanya. Aku terlalu mengkondisikan hidup anakku, mempersiapkan yang terbaik dan merasa orang yang paling berhak atas hidupnya. Sehingga ketika aku dihadapkan pada kondisi di mana ada orang-orang yang ‘ikutan’ mengkondisikan anakku aku merasa tidak terima. Meski tak terucap tidak juga terlihat lewat sikap, aku harus mengakui pada diri sendiri bahwa aku memang tidak terima. Tapi bisakah aku memaksakan mereka untuk memenuhi mauku? I’m not a full time mommy, ada saat dimana aku harus berbagi pengasuhan pada mereka. Tidak hanya karena alasan aku bekerja tapi lebih ke pemenuhan hak anakku untuk berinteraksi juga dengan orang selain orang tuanya. Yah, ini yang terlambat aku sadari.

Berdiri di persimpangan jalan
Sebagai orang tua jelas aku dan suami harus kompak dan satu suara dalam mendidik anak. Jika suami bilang tidak dan menurutku ada baiknya juga untuk anakku, aku akan ikutan bilang tidak. Tapi ketika anakku diajak saudara dan membolehkan, apa yang mesti aku lakukan? Di satu sisi aku ingin apa yang tidak boleh seterusnya diingat oleh anakku sebagai hal yang memang tidak boleh dilakukannya, tapi ketika ada seseorang yang membolehkannya apa tidak mungkin kelak dia akan selalu mencari pelarian (baca: pembelaan) ketika kedua orangtuanya bilang tidak? Apa jadinya nanti ketika dia telah mengenal dunia luar? Tidakkah selalu mencari pembenaran di setiap kesalahan yang dilakukannya? Satu, ini yang membuatku stres.
Kedua, keinginanku untuk melihat anakku sehat, gak sering batuk seperti sekarang. Dua hari berobat, sembuh eee … tiga hari batuk lagi. Inginku sebelum dia sembuh benar, aku jauhkan dia dari semua pencetusnya termasuk teman mainnya yang sakit batuk. Tapi ketika dia tidak dalam pengasuhanku, dia bebas bermain membaur dengan semua temannya yang uhuk-uhuk tadi. HAsilnya? Batuknya jadi kambuh lagi. Menyaksikannya lemas karena muntah, mendengar napasnya yang grok-grok, menemaninya bangun tengah malam, menoreh perih di ulu hatiku, tagisan dalam hati. Siapa yang bisa mengerti perasaan ini? Bukan karena capek tapi lebih dari itu, perasaan gak tega, ingin aku menggantikannya. Penyebab stresku yang kedua.
Tidak pernah ada di mata mereka
Sampai hari ini di usia 7 bulan anakku, masih saja ada orang yang menafikan peranku dalam mengasuh anak. Ada yang bilang aku ibu yang paling enak, punya anak tapi gak kerepotan mengasuhnya, pergi kerja dari pagi sampai sore, anak di tinggal di rumah. Duh, sadarkah ia kata-katanya membuat hatiku teriris? Tidak tahukah ia justru anakku tak titipin TPA karena gak mau merepotkan orang rumah? Menyedihkan
Belum lagi satunya ngomong, anakku bisa tidur nyenyak kalau di gendong si mbak, soale kalau sama aku nggak pernah tak gendong. Omongan yang gak penting, aku maunya anakku tidur ya di tempat tidur tidak digendongan. Apa jadinya jika ia besar nanti? Ditambah lagi ketika aku pulang kerja, di saat kangen sudah pada puncaknya anakku tidak di rumah. Atau aku tidak boleh langsung megang dikarenakan belum cuci tangan, belum mandi, bau jalan, meski anakku dah ngerengek dan nangis. Herannya, kenapa kalau mbak di rumah yang baru dari luar datang langsung menimang anakku tidak ada yang protes? Tidak ada yang negur belum cuci kaki, cuci tangan? Aturan yang parsial. Bukannya secara psikis tangisan tidak segera mendapat respon mengikis rasa percaya dirinya? Penyebab stresku yang ketiga.

Mendengarkan intuisi mengobati hati
Dari tiga paparan tadi sudah bisa dipastikan aku stress. Sudah, gak perlu merunut lagi, cukup. Ketidakkuasaanku untuk mengkondisikan seperti yang aku mau, bukan karena tidak mampu tapi lebih disebabkan ‘pengakuanku’ atas hal-hal yang terserak di sekitarku, mengitari hidup anakku, hingga aku HARUS ‘mempersilahkannya’ masuk, berpartisipasi mewarnai hidup kami. Tak apalah, aku hanya percaya bahwa Dia tidak tidur dan diam. Ketika anakku ada dalam pengasuhanku aku bisa mengupayakan yang terbaik tapi ketika ada dalam pengasuhan orang lain, cukuplah aku pasrah menitipkan kepadaNya dan yakin tanganNya pasti terulur untuk melindungi anakku. Dan seperti yang sering aku lakukan dulu, aku harus berpikir positif, memupuk sugesti, melatih intuisi agar seperti itulah yang akan terjadi, yang dibisikkan intuisiku, nuraniku, kata katiku. Dan itu tidak pernah salah, aku sudah membuktikan kekuatan intuisi dari masa pacaran dengan suami, menikah, mengandung sampai melahirkan anakku. Semuanya nyata, meski kedengarannya aneh dan sedikit ‘klenik’ tapi begitulah adanya. Sering aku ditertawakan suami ketika bilang bahwa kalau aku mau sesuatu aku hanya perlu mengucapkannya dalam hati, memupuk sugesti dan berkhayal atau bertingkah seolah-olah itu nyata, kelak entah kapan pasti terwujud nyata. Kelihatan mengada ada yah? Nggak juga, sebenernya kalau dilogika dan ditelaah lagi secara techno itu benar. Sering gak mendengar alam bawa sadar? Yah, seperti itulah intuisi bekerja. Alam bawa sadar mampu menggerakkan kita, mengoperasikan motorik kita berdasarkan rutinitas dan kebiasaan yang kita lakukan setiap hari. Yah, setiap hari kita punya beribu macam rutinitas yang pastinya terekam jelas dalam memory dan alam bawa sadar kita. Ambil contoh kalau kita berangkat kerja naik motor. Awalnya kita harus bener-bener memperhatikan rute jangan sampai nyasar atau hati-hati menghindari jalanan yang berlobang, kosentrasi penuh, gak boleh ngobrol atau sambil bersenandung. Tapi setelah seminggu, sebulan, setahun … kita sudah tidak lagi detail memperhatikan rute. Sering tersadar setelah melewati traffic light kita mikir ‘eh, tadi lampunya ijo atau merah sich koq aku gak berhenti?’ Atau ‘eh, koq dah nyampek sini yah? bukannya di tikungan tadi ada lobang besar? Gimana caranya aku menghindarinya tadi?’ KEsimpulannya kita sudah bisa yah naik motor sambil ngelamun tapi nyampek juga di tujuan? Pernah ada temen yang cerita dia sering salah ambil haluan ketika di jalan tol, harusnya ambil kanan trus belok untuk nyampek ke kantor tempat dia bekerja sekarang, tapi dia sering malah ambil kiri dan belok ke tempat kerjanya yang dulu, yang sudah 5 tahun dia tempati. Nah, apa yang menggerakkan kita? Alam bawa sadar, memory yang otomatis mereply. Sama halnya dengan sugesti atau intuisi. Pernah gak mengalami ketika kita lagi memikirkan seorang teman lama dan berharap bisa bertemu eh tiba-tiba dia nongol karena kebetulan lagi liburan keluarga. Kebetulan? Tidak juga, karena sebenernya intuisi juga bentuk komunikasi. Komunikasi pertama yang kita kenal sejak dalam kandungan ibu. Komunikasi bayi dengan ibunya, orang menyebutnya kontak batin. Dan setiap orang bisa melakukannya, hanya kadang kita lupa dan merasa sudah tidak jaman menerapkannya di era digital ini.
Pernah membaca buku The Secret? Aku mulai ngomong masalah intuisi dengan orang lain setelah membaca buku ini. Sebelumnya aku gak pernah berani berbagi tentang keajaiban komunikasi via intuisi, takut dibilang ‘klenik’, berlagak peramal atau ngepas-ngepasno (baca : mencocok-cocokkan – JAwa). Tapi setelah aku membaca The Secret aku semakin yakin bahwa yang aku terapkan dari 5 tahun yang lalu itu bukan klenik, bukan karena punya indra keenam tapi sugesti dan intuisi itu memang benar adanya. Contoh sederhananya membalikkan rasa tidak nyaman menjadi nyaman, seperti ketika kepala pening-pusing cobalah membalikkan dengan mengatakan aku tidak apa-apa, hanya perlu tidur saja, setelah bangun pasti sembuh. Dan rasakan hasilnya!

Berpijak dari keyakinanku akan kekuatan intuisi, aku harus berpikir dan yakin bahwa meski tidak dalam pengasuhanku, anakku tetap bisa mendapat perlakuan yang terbaik seperti yang aku sugestikan padanya. Dan untuk diriku sendiri harus lebih rileks, bersahabat dengan semua rasa, menerima dan merasakannya semua tanpa memilah.
Demi stres ………., mencoba bersahabat dengan semua rasa. Lempeng, terkadang sangatlah melegakan