Coretanku …..

Berani mengakui kekalahan, itulah sifat ksatria

Posted by: nti3 on: 10 Juli 2009

“aku pulang tanpa dendam, tuk terima kekalahanku

aku pulang tanpa dendam, kusalutkan kemenanganmu

kau ajarkan aku ……………”

(SheilaO7-Berhenti berharap)

Perhelatan besar negri ini usai sudah, pesta demokrasi yang aku rasakan ‘benar-benar sebuah pesta besar’. Meski banyak pro kontra mewarnai pelaksanaannya, mulai dari pileg sampai pilpres kemarin, harus diakui saat inilah bangsa Indonesia menunjukkan kematangan berdemokrasi. Bayangkan, kita dapat bebas bersuara tanpa dibungkam, mengkritik bahkan mencela tidak lagi menjadi tabu, seorang capres bebas ‘mencela habis’ kompetitornya tanpa canggung meski saat ini duduk dipemerintahan yang sama, sekali lagi coba bayangkan …

Seperti tulisanku yang lalu, mereka yang bertarung di pilpres kemaren adalah guru bangsa, negarawan yang segala sepak terjangnya akan selalu menjadi tauladan dan pembelajaran bagi rakyat. Megawati, SBY dan JK mungkin memang bukan presiden yang ideal-sempurna, tapi kita tetap harus memilih yang terbaik diantara mereka. Karena kita tidak boleh lagi main-main, pilihan kita saat ini akan menentukan kehidupan kita setidaknya 5 tahun ke depan. Meski tidak memilih (golput) adalah sebuah pilihan, tapi ngeri juga kan kalau hasil dari golput tadi justru memenangkan capres yang bertangan besi?

Dari awal aku sudah menduga SBY yang menang, bahkan satu putaran cukup. Suamiku bilang gak mungkin, pasti dua putaran karena Mega-JK juga punya kekuatan. Analisa itu betul, kalau kita bicara pileg. Tapi untuk pilpres, penokohan itulah yang utama, gak peduli apapun partainya. Pertanyaannya, kamu pendukung SBY ‘san? he..he.. pendukung sih bukan, kalau pemilih … iya dong :) Vote SBY for presiden @8 July 2009. Alasannya? Banyak, salah satunya karena dua diantaranya gak banget. Artinya, milih karena ora ono liyo (gak ada yang lain) huehehe :) . Coba kita ulas satu-satu ya.

EraMegawati dinilai sebagai  pemerintahan yang gagal dengan dijualnya beberapa aset negara, gaya komunikasi politiknya kurang oke, sering menyerang secara pribadi (entah ada masalah pribadi apa dia dengan SBY), penghapusan outsourcing tidak segampang yang dijanjikan karena taruhannya harus berhadapan dengan para kaum kapitalis, artinya dia harus berhadapan dengan sanak kerabatnya sendiri, bagaimana bisa? Prabowo mengingatkanku akan tragedi Semanggi dan Trisakti, kasus pelanggaran HAM berat, yang menguap tanpa ketok palu persidangan. Dimana empatinya kepada para keluarga korban? Jangankan untuk melupakan, sekedar kata maaf mungkin kelu untuk mengucapkannya.

Jusuf Kalla adalah pribadi yang ‘segar’. Aku suka dengan gaya santainya. Tapi untuk memimpin negeri yang carut marut gini, sosok beliau masih kurang kuat. Akan banyak yang ngerecoki nanti. Dan Wiranto? ‘Serupa tapi tak sama’ dengan Prabowo, gak banget.

Saat ini, di era kepemimpinan SBY (SBY-JK jangan lupa!) pelan tapi pasti koruptor sudah tidak bebas lagi berkeliaran. Sistem yang transparan, demokratis, semua berjalan sesuai prosedur. Meski hujan kritik, cacian dan hujatan, beliau tetap tenang memegang komitmennya. Mungkin ini juga nilai plus dia di mata rakyat. Coba perhatikan, ketika dia menggandeng Budiono sebagai cawapres, meski dihujat bahkan oleh parpol pendukungnya, beliau tetap keukeuh dengan pendiriannya untuk tidak mengambil pasangan dari partai. Yup setuju, menghindari konflik kepentingan. Perhatikan lagi ketika KPU ‘ditekan’ oleh kubu Mega-Pro dan JK-Win untuk meloloskan pemilih yang menggunakan KTP, tidak sedikitpun SBY mengomentari, artinya tidak ada intervensi SBY sebagai bukti independensi KPU. Salut!

Treng …! meski penghitungan KPU belum publish, tapi hasil quick count beberapa lembaga survey menunjukkan kemenangan telak SBY. Fantastis, jauh diatas 50%. Dan ketika ada pengamat yang menilai kemenangan SBY karena faktor budaya pemilih yang rata-rata menengah ke bawah, aku jadi heran … apa mereka yang di Aussie, Itali, Prancis, Swedia etc juga mewakili budaya yang dimaksud? Komentar yang tendensius :(

yg kalah

Mereka yang maju sebagai capres cawapres adalah seorang negarawan-guru bangsa, setiap sepak terjangnya diharapkan bisa memberi tauladan dan pembelajaran bagi rakyat. Dan kini, ketika SBY-Budiono sudah diprediksikan menang telak dalam pemilihan presiden, adakah yang dengan sikap ksatria mengucapkan SELAMAT? Huehehe … mereka malah pada sibuk membahas kecurangan pilpres, bahkan berkomentar pemilu yang penuh rekayasa, pemilih yang sudah diarahkan. Bukankah sudah ada Bawaslu, Panwaslu? Mereka tidak tidur koq dan mereka juga independen. Lagian kita sudah pada pinter pak, bu, sudah bisa memilih yang terbaik tanpa iming-iming apapun. Bahkan sudah ada ‘peringatan’ dari Hidayat Nur Wahid dan juga Wimar Witoelar bagi pasangan yang kalah untuk memberi ucapan selamat kepada yang menang (meski masih versi quick count). Dan Budiono menunjukkan ‘keluguannya’ ketika merasa harus mengucapkan selamat kepada SBY. Gak heran ada reporter yang bertanya gak salah Pak ngucapin selamat ke SBY, bukankah itu kemenangan bapak juga? Jawab beliau? Tidak ada salahnya to memberi ucapan selamat, karena artinya kerja keras SBY selama ini benar-benar ‘menyentuh’ rakyat, hingga rakyat memilihnya kembali. Siiippp Pak. Dan JK, sekali lagi menunjukkan ‘kesegaran’ sikapnya. Dengan lugas dan disertai canda tawa dia memberi ucapan selamat pada SBY. Tinggal tunggu Megawati, relakah ia mengulurkan tangannya untuk SBY? Tunggu saja, karena semua kalangan pasti juga menuggu momen itu. Mau taruhan?? Gak lah melanggar hukum itu :)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

santi’s twitter

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.